×
Ad

Viral Awan Pelangi di Bogor, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Adi Fida Rahman - detikInet
Sabtu, 02 Mei 2026 08:00 WIB
Viral Awan Pelangi di Bogor, Ini Penjelasan Ilmiahnya. Foto: TikTok
Jakarta -

Fenomena langit berwarna-warni yang muncul di wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (1/5/2026) viral di media sosial. Warga di Jonggol, Sentul, hingga Cileungsi mengabadikan momen langka tersebut, yang memperlihatkan awan tipis memancarkan gradasi warna merah muda, hijau, biru, hingga ungu seperti pelangi.

Video dan foto yang beredar memperlihatkan keindahan langit yang disebut netizen sebagai "langit berfilter" hingga "keajaiban alam". Fenomena ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum akhirnya hujan turun di sejumlah wilayah.

Lantas, apa sebenarnya fenomena tersebut?



Apa Itu Awan Iridesasi?

Secara ilmiah, peristiwa ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence), yakni fenomena optik atmosfer yang membuat awan tampak berwarna-warni. Berbeda dengan pelangi biasa, warna pada awan ini tidak membentuk busur, melainkan menyebar mengikuti bentuk awan.

Menurut penjelasan dari badan antariksa NASA, iridesensi terjadi akibat proses difraksi cahaya matahari. Ketika sinar matahari melewati partikel-partikel sangat kecil di dalam awan, cahaya akan dibelokkan dan terpecah menjadi spektrum warna.

@mystic_melody_77 fenomena alam di atas langit Jonggol gaes #jonggol #fenomena #awan #pelangi #aurora ♬ original sound - Spark Wave

Bagaimana Terbentuk?

Fenomena ini biasanya muncul pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang berada di ketinggian menengah hingga tinggi. Kunci utama terbentuknya iridesensi adalah ukuran partikel di dalam awan yang relatif seragam.

Pakar meteorologi dari World Meteorological Organization menjelaskan bahwa tetesan air atau kristal es berukuran sekitar 1-10 mikron memungkinkan terjadinya difraksi yang menghasilkan warna-warna lembut. Jika ukuran partikel tidak seragam, efek warna biasanya tidak akan terlihat jelas.

Peneliti atmosfer dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga menambahkan bahwa fenomena ini lebih mudah diamati saat matahari berada pada sudut rendah, seperti pagi atau sore hari. Posisi ini membuat cahaya lebih optimal untuk mengalami difraksi di dalam awan tipis.

"Warna-warna tersebut sering terlihat di tepi awan atau di dekat posisi matahari, sehingga pengamatan harus dilakukan dengan hati-hati," demikian penjelasan ilmiah yang dirilis NOAA.





Simak Video "Video Sosok Hasna Hasni, Kembar Tunarungu Viral yang Tembus Dunia Kerja"


(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork