Para astronom menduga awan misterius yang ditemukannya pada September 2024 menyembunyikan sebuah planet rahasia. Awan ini diperkirakan berukuran hingga 15 ribu lebih lebar dibandingkan Bumi.
Dengan ukurannya yang sangat besar itu, menyebabkan bintang induknya hampir sepenuhnya menghilang dari pengamatan teleskop hampir sembilan bulan. Para astronom menyadari keberadaan awan ini ketika mendeteksi peristiwa peredupan yang mengejutkan di sekitar bintang J0705+0612, bintang deret utama yang mirip Matahari dan jaraknya sekitar 3 ribu tahun cahaya dari Bumi.
Kecerahan bintang tersebut tiba-tiba turun 40 kali lipat menjadi sekitar 30% dari luminsotas aslinya. Lominositas adalah total energi (cahaya dan radiasi lainnya) yang dipancarkan oleh benda langit seperti bintang atau galaksi per satuan waktu. Fenomena meredupnya bintang ini terjadi selama lebih dari delapan setengah bulan, sebelum kembali ke kecerahan aslinya pada Mei 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bintang seperti matahari tidak berhenti bersinar tanpa alasan. Jadi, peristiwa peredupan dramatis seperti ini sangat jarang terjadi," kata penulis utama studi dan astrofisikawan di Universitas Johns Hopkins, Nadia Zakamska, dalam sebuah pernyataan, dilansir Live Science, Jumat (30/1/2026).
Setelah mengesampingkan hal-hal seperti planet raksasa dan sabuk asteroid, yang terlalu kecil atau tersebar untuk menghalangi begitu banyak cahaya dalam waktu lama, para peneliti menyimpulkan bahwa objek yang menutupinya adalah Giant Molecular Clouds atau Awan Molekuler Raksasa.
Menggunakan Gemini High Resolution Optical SpecTrograph (GHOST), para peneliti dapat menembus awan lebih dalam daripada menggunakan teleskop lain. Mereka pun dapat menyelidiki secara tepat komposisi awannya.
Hasilnya melampaui semua harapan. Zakamska mengatakan, di dalam awan tersebut melimpah kandungan logam seperti besi dan kalsium. Setelah meninjau pergerakan awan, dengan cepat menjadi jelas bahwa massa logam itu disatukan oleh sebuah objek besar di pusatnya.
Jika mengacu pada ukurannya, awan ini berupa gas raksasa yang beberapa kali lebih besar dari Jupiter. Namun pertanyaannya yang masih menjadi mister ialah bagaimana awan itu terbentuk.
Para peneliti memperkirakan bahwa awan tersebut berusia sekitar 2 miliar tahun, yang mengindikasikan bahwa usianya lebih muda daripada bintang induk J0705+0612. Ini berarti awan ini bukanlah sisa dari pembentukan sistem bintang, seperti kebanyakan cakram serupa lainnya.
Tapi para peneliti juga berasumsi awan tanpa nama ini terbentuk akibat tabrakan planet, mirip dengan bentrokan yang melahirkan bulan. Para peneliti beragumen ini tidak hanya menjelaskan usia awan, tetapi juga kandungan logamnya yang sangat tinggi.
"Peristiwa ini menunjukkan kepada kita bahwa bahkan dalam sistem planet yang sudah matang, tabrakan besar dan dramatis masih dapat terjadi," pungkas Zakamska.
Para peneliti kemungkinan akan mempelajari lebih lanjut tentang awan misterius ini pada 2068, ketika awan tersebut kembali melewati antara J0705+0612 dan Bumi.
Baca juga: Mars Purba Ternyata 'Planet Biru' Mirip Bumi |
(hps/fay)