Fenomena langit berwarna-warni yang muncul di wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (1/5/2026) viral di media sosial. Warga di Jonggol, Sentul, hingga Cileungsi mengabadikan momen langka tersebut, yang memperlihatkan awan tipis memancarkan gradasi warna merah muda, hijau, biru, hingga ungu seperti pelangi.
Video dan foto yang beredar memperlihatkan keindahan langit yang disebut netizen sebagai "langit berfilter" hingga "keajaiban alam". Fenomena ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum akhirnya hujan turun di sejumlah wilayah.
Lantas, apa sebenarnya fenomena tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Awan Iridesasi?
Secara ilmiah, peristiwa ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence), yakni fenomena optik atmosfer yang membuat awan tampak berwarna-warni. Berbeda dengan pelangi biasa, warna pada awan ini tidak membentuk busur, melainkan menyebar mengikuti bentuk awan.
Menurut penjelasan dari badan antariksa NASA, iridesensi terjadi akibat proses difraksi cahaya matahari. Ketika sinar matahari melewati partikel-partikel sangat kecil di dalam awan, cahaya akan dibelokkan dan terpecah menjadi spektrum warna.
@mystic_melody_77 fenomena alam di atas langit Jonggol gaes #jonggol #fenomena #awan #pelangi #aurora β¬ original sound - Spark Wave
Bagaimana Terbentuk?
Fenomena ini biasanya muncul pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang berada di ketinggian menengah hingga tinggi. Kunci utama terbentuknya iridesensi adalah ukuran partikel di dalam awan yang relatif seragam.
Pakar meteorologi dari World Meteorological Organization menjelaskan bahwa tetesan air atau kristal es berukuran sekitar 1-10 mikron memungkinkan terjadinya difraksi yang menghasilkan warna-warna lembut. Jika ukuran partikel tidak seragam, efek warna biasanya tidak akan terlihat jelas.
Peneliti atmosfer dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga menambahkan bahwa fenomena ini lebih mudah diamati saat matahari berada pada sudut rendah, seperti pagi atau sore hari. Posisi ini membuat cahaya lebih optimal untuk mengalami difraksi di dalam awan tipis.
"Warna-warna tersebut sering terlihat di tepi awan atau di dekat posisi matahari, sehingga pengamatan harus dilakukan dengan hati-hati," demikian penjelasan ilmiah yang dirilis NOAA.
Apakah Berbahaya?
Fenomena ini kerap dibandingkan dengan efek warna pada permukaan CD atau minyak di atas air, yang juga merupakan hasil difraksi cahaya. Meski terlihat dramatis, awan iridesensi tidak berbahaya dan tidak berkaitan dengan hal supranatural.
Namun demikian, para ahli mengingatkan agar tidak menatap langsung ke arah matahari saat mencoba mengamati fenomena ini, karena dapat berisiko merusak retina mata.
Dalam beberapa kasus, kemunculan awan iridesensi memang dapat bertepatan dengan perubahan cuaca, seperti hujan atau badai ringan. Hal ini bukan karena fenomenanya berbahaya, melainkan karena jenis awan tipis yang memicu iridesensi sering terbentuk dalam kondisi atmosfer yang sedang tidak stabil.
Fenomena serupa sebenarnya pernah beberapa kali terjadi di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Namun karena membutuhkan kondisi atmosfer yang sangat spesifik-awan tipis dengan partikel homogen dan sudut cahaya yang tepat-kemunculannya tergolong jarang.
Bagi warga Bogor yang sempat menyaksikan langsung, momen ini menjadi pengalaman langka sekaligus pengingat bahwa fenomena fisika di atmosfer Bumi bisa menghadirkan pemandangan yang luar biasa indah.
Buat kamu yang belum sempat melihatnya, fenomena ini biasanya muncul saat langit cerah dengan awan tipis di pagi atau sore hari. Jadi, tak ada salahnya sesekali menengok ke langit-siapa tahu keajaiban serupa kembali muncul.
(afr/afr)


