Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gempa M7,6 Picu Alarm Tsunami, BRIN Ungkap Teknologi Deteksi Baru

Gempa M7,6 Picu Alarm Tsunami, BRIN Ungkap Teknologi Deteksi Baru


Agus Tri Haryanto - detikInet

Kepala BNPB Suharyanto memimpin rapat koordinasi penanganan gempa di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Gempa M7,6 Picu Alarm Tsunami, BRIN Ungkap Teknologi Deteksi Baru Foto: Muhammad Reevanza/detikFoto
Jakarta -

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang tiga provinsi di utara Sulawesi dan Maluku beberapa waktu lalu, mengingatkan tingginya aktivitas seismik di kawasan timur Indonesia. Para peneliti menilai kejadian ini juga menunjukkan potensi ancaman tsunami yang masih perlu diantisipasi dengan sistem deteksi yang lebih kuat.

Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Semeidi Husrin, mengatakan gempa tersebut dipicu oleh mekanisme sesar naik yang memang berpotensi memicu tsunami.

"Sesuai dengan rilis resmi yang dikeluarkan oleh BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia, gempa bumi yang terjadi di Maluku Utara itu adalah gempa akibat sesar naik dengan kekuatan sekitar 7,6 magnitudo dan berpotensi men-trigger tsunami," ujar Semeidi dikutip dari laman BRIN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Menurutnya, tsunami memang sempat tercatat di beberapa lokasi di sekitar episenter, meski ketinggian gelombangnya relatif kecil dan sebagian besar berada di bawah satu meter. Namun demikian, sejarah menunjukkan kawasan tersebut pernah mengalami tsunami besar pada abad ke-19.

"Sejarah pencatatan abad ke-19 juga di titik yang sama pernah terjadi gempa yang cukup besar dan menyebabkan tsunami yang cukup besar, catatannya bahkan mencapai 15 meter," lanjut Semeidi.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional InaTEWS milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BRIN mengembangkan alat bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut).

Teknologi ini berbeda dengan sistem konvensional yang biasanya mengandalkan pemodelan gempa untuk memperkirakan kemungkinan tsunami.

"Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan. Sementara PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, dia secara real time langsung mencatat tsunaminya," jelas Semeidi.

Perangkat ini dirancang untuk memantau perubahan muka air laut secara langsung sehingga dapat memberikan indikasi tsunami lebih cepat. Menurut Semeidi, teknologi tersebut sangat cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki banyak pulau kecil di wilayah timur.

Sebagai contoh pada kasus gempa Maluku Utara, sensor seperti PUMMA dapat dipasang di dua pulau kecil yang dekat dengan sumber gempa, yakni Pulau Maju dan Pulau Batang Dua.

"Alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil ini sehingga dia bisa membantu lebih cepat untuk deteksi dini tsunaminya," tambahnya.

Semeidi menjelaskan bahwa PUMMA sebenarnya sudah digunakan selama sekitar enam tahun di wilayah Selat Sunda. Perangkat ini dipasang di Pulau Rakata, kawasan kompleks Gunung Api Anak Krakatau, dan menjadi satu-satunya sistem pemantauan tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik di Indonesia saat ini.

"PUMMA saat ini di Selat Sunda terpasang dengan baik di Pulau Rakata, kompleks Gunung api Anak Krakatau yang merupakan satu-satunya sistem atau alat yang melakukan informasi monitoring dan sistem peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda saat ini," kata Semeidi.

Pengembangan teknologi ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi, Telkomsel, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta sejumlah lembaga nasional dan internasional.

Salah satu hal penting yang diingatkan para peneliti adalah bahwa tsunami tidak selalu dipicu oleh gempa bumi. Peristiwa tsunami di Palu pada 2018 dan Selat Sunda pada tahun yang sama menjadi bukti bahwa tsunami juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api maupun longsor bawah laut.

"Tsunami tidak hanya diakibatkan oleh gempa bumi tetapi juga akibat aktivitas gunung api atau longsor bawah air. Aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi oleh sensor gempa bumi, hanya sensor tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa mendeteksi tsunami lebih dini," tegasnya.

Oleh karena itu, BRIN mendorong penggunaan sistem multisensor yang dapat melengkapi sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada.

Selain teknologi deteksi, tantangan lain yang masih dihadapi Indonesia adalah penyampaian informasi peringatan dini di wilayah pesisir yang terdampak.

Adapun saat ini, BMKG dapat mengirimkan peringatan dini tsunami dalam waktu sekitar lima menit setelah gempa. Namun, tidak semua wilayah memiliki sistem sirine atau jalur evakuasi yang siap digunakan.

"Ini menjadi tantangan terbesar kita ke depan karena karakteristik tsunami di Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Jika kejadian gempa bumi, maka tsunami bisa sampai di pesisir dalam 30 menit atau kurang dari satu jam," pungkas Semeidi.






(agt/afr)








Hide Ads
LIVE