Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengembangkan teknologi eksperimental yang berpotensi meningkatkan sistem peringatan dini tsunami.
Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi tanda-tanda tsunami lebih cepat dibanding metode konvensional sehingga dapat memberi waktu tambahan bagi masyarakat untuk bersiap.
Teknologi tersebut bernama GUARDIAN yang merupakan singkatan dari GNSS Upper Atmospheric Real-time Disaster Information and Alert Network. Teknologi ini berupa sistem yang memanfaatkan gangguan kecil pada sinyal navigasi satelit untuk mendeteksi pergerakan gelombang tsunami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana dikutip dari Phys.org, Rabu (25/3/2026) dalam sebuah visualisasi data terbaru, para peneliti menunjukkan bagaimana GUARDIAN bekerja pada kasus nyata gempa besar yang terjadi di lepas pantai Rusia pada 29 Juli 2025. Gempa berkekuatan magnitudo 8,8 tersebut memicu tsunami yang melaju melintasi Samudra Pasifik menuju Hawaii dengan kecepatan lebih dari 500 mil per jam (sekitar 805 km/jam).
Sistem GUARDIAN menggunakan algoritma berbasis kecerdasan buatan untuk menganalisis perubahan sinyal dari satelit navigasi seperti GPS yang dipantau oleh stasiun di darat. Gangguan pada sinyal tersebut muncul ketika gelombang tsunami memicu perubahan di lapisan atmosfer atas atau ionosfer.
Dalam kasus gempa Kamchatka tersebut, sistem ini mampu mendeteksi gangguan hanya delapan menit setelah gempa terjadi.
Tak hanya itu, GUARDIAN juga berhasil mengidentifikasi gelombang tsunami yang mendekati wilayah Hawaii sekitar 32 menit sebelum gelombang tersebut mencapai daratan dan sebelum terdeteksi oleh alat pengukur pasang surut laut.
Salah satu pengembang GUARDIAN dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Camille Martire, menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk melengkapi sistem peringatan tsunami yang sudah ada saat ini.
Saat ini, para ahli biasanya mengandalkan data gempa dan simulasi komputer untuk memprediksi apakah sebuah gempa memicu tsunami. Konfirmasi kemudian diperoleh dari sensor tekanan yang dipasang di dasar laut. Namun sensor tersebut mahal dan jumlahnya terbatas sehingga masih ada wilayah yang tidak tercakup.
Pendekatan GUARDIAN dinilai lebih hemat biaya karena memanfaatkan jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) yang sudah ada di seluruh dunia. Data dari sistem ini juga dapat diakses secara gratis, meski saat ini analisisnya masih memerlukan ahli yang terlatih untuk menafsirkan hasilnya.
Dengan kemampuan mendeteksi tsunami lebih cepat, teknologi ini berpotensi memberikan waktu tambahan bagi otoritas dan masyarakat untuk melakukan evakuasi.
Bahkan, para ilmuwan menyebutkan tambahan beberapa menit peringatan bisa membuat perbedaan besar dalam upaya melindungi komunitas pesisir yang berada di jalur tsunami.
Jika terus dikembangkan dan diintegrasikan dengan sistem peringatan dini yang ada, teknologi seperti GUARDIAN dapat menjadi alat penting dalam mitigasi bencana di masa depan, terutama bagi negara-negara yang rawan gempa dan tsunami.
(agt/fay)

