×
Ad

Satelit NASA Ungkap Tembok Hijau China Ampuh Hambat Perluasan Gurun

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 11 Mar 2026 05:45 WIB
Foto: (Xinhua)
Jakarta -

Program penghijauan raksasa China yang dikenal sebagai Great Green Wall atau Tembok Hijau mulai menunjukkan dampak nyata. Berdasarkan pengamatan satelit NASA, proyek tersebut terbukti membantu memperlambat perluasan gurun sekaligus mengubah lanskap wilayah kering di negara itu.

Program ini secara resmi bernama Three-North Shelterbelt Program dan diluncurkan pemerintah China pada 1978. Tujuannya adalah menahan ekspansi gurun besar seperti Gobi dan Taklamakan yang terus meluas ke wilayah permukiman dan lahan pertanian di bagian utara China.

Selama puluhan tahun, China menanam miliaran pohon di sepanjang sabuk wilayah tersebut. Upaya ini bertujuan menciptakan penghalang alami yang dapat menahan angin pembawa pasir, mengurangi badai debu, serta menstabilkan tanah yang rawan desertifikasi.

Data satelit menunjukkan adanya peningkatan tutupan vegetasi yang signifikan di sejumlah wilayah yang sebelumnya sangat kering. Perubahan ini menandakan bahwa proyek penghijauan tersebut mulai memberikan dampak ekologis yang terukur.

Para peneliti juga menemukan bahwa beberapa wilayah yang sebelumnya tandus kini menunjukkan peningkatan aktivitas fotosintesis dan bahkan mulai berfungsi sebagai penyerap karbon alami atau carbon sink.

"Untuk pertama kalinya kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem," ujar Yuk Yung, profesor ilmu planet di California Institute of Technology sekaligus peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, dikutip dari VWC News.

Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa rekayasa ekologi dalam skala besar dapat membantu mengurangi dampak desertifikasi sekaligus berkontribusi pada penyerapan karbon.

Tembok Hijau China sendiri dirancang membentang ribuan kilometer melintasi wilayah utara negara tersebut. Ketika proyek ini selesai sepenuhnya, sabuk hutan tersebut diperkirakan akan mencapai panjang sekitar 4.500 kilometer.

Proyek ini juga berkontribusi pada peningkatan luas tutupan hutan di China dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah wilayah yang sebelumnya tandus kini mulai kembali memiliki vegetasi yang lebih stabil.

Meski demikian, para ilmuwan juga mencatat bahwa program ini masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa area mengalami tingkat kematian pohon yang cukup tinggi karena kondisi tanah yang sangat kering. Selain itu, penggunaan jenis pohon yang kurang beragam juga dinilai dapat menimbulkan risiko terhadap penyakit tanaman.

Walau begitu, proyek Great Green Wall tetap dianggap sebagai salah satu eksperimen restorasi lingkungan terbesar di dunia. Jika keberhasilannya terus berlanjut, pendekatan ini bisa menjadi contoh bagi negara lain dalam upaya memerangi desertifikasi dan dampak perubahan iklim.

Saksikan Live DetikPagi:



Simak Video "Video: China Anggap Starlink Ancaman, Labrak Satelit Elon Musk di PBB!"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork