Para ilmuwan menemukan fosil telur dinosaurus berusia sekitar 68 juta tahun yang sangat langka. Yang mengejutkan, telur tersebut ternyata berisi telur lain di dalamnya, fenomena yang sebelumnya hanya diketahui terjadi pada burung modern.
Penemuan ini berasal dari kawasan Formasi Lameta di Madhya Pradesh, India, lokasi yang memang dikenal sebagai salah satu situs sarang dinosaurus terbesar dari periode Kapur Akhir (Late Cretaceous).
Fosil tersebut diyakini berasal dari titanosaurus, kelompok dinosaurus herbivora raksasa berleher panjang yang termasuk hewan darat terbesar yang pernah hidup di Bumi. Penemuan ini bermula dari survei lapangan pada 2017 ketika para peneliti menemukan 11 telur dinosaurus yang telah menjadi fosil tersusun dalam satu cekungan tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masing-masing telur berdiameter sekitar 15cm dan memiliki bentuk yang seragam. Pada awalnya, tidak ada yang terlihat aneh. Namun ketika salah satu telur diperiksa lebih lanjut menggunakan pemindaian, ilmuwan menemukan struktur melengkung di bagian dalam yang tidak biasa.
Hasil pemindaian kemudian mengungkap adanya dua lapisan cangkang telur yang terpisah, menunjukkan bahwa terdapat telur lain di dalamnya. Para peneliti menjelaskan struktur tersebut sebagai fenomena 'ovum-in-ovo', yaitu kondisi ketika satu telur terbentuk di dalam telur lainnya.
Fenomena yang Biasa Terjadi pada Burung
Fenomena ovum-in-ovo sebelumnya hanya pernah diamati pada burung modern. Kondisi ini biasanya terjadi ketika telur yang hampir selesai terbentuk bergerak kembali ke saluran reproduksi dan kemudian dilapisi cangkang baru. Tim peneliti menjelaskan ciri khas fosil tersebut dalam laporan ilmiahnya.
"Telur ini menunjukkan dua lapisan cangkang yang lengkap, satu berada di dalam yang lain," tulis para penulis penelitian dalam jurnal ilmiah, dikutip dari The Daily Galaxy.
Penemuan ini menjadi bukti pertama bahwa fenomena tersebut juga bisa terjadi pada dinosaurus, sekaligus memberi petunjuk baru mengenai sistem reproduksi dinosaurus, khususnya titanosaurus.
Menurut Guntupalli Prasad, peneliti yang memimpin studi dari University of Delhi, struktur tersebut menunjukkan bahwa dinosaurus mungkin memiliki sistem reproduksi yang mirip dengan burung.
"Adanya patologi ovum-in-ovo pada sarang titanosaurus menunjukkan bahwa dinosaurus ini mungkin memiliki anatomi reproduksi yang mirip dengan burung," jelas Prasad.
Selama ini, ilmuwan beranggapan banyak reptil purba memiliki sistem reproduksi sederhana. Namun temuan ini menunjukkan bahwa beberapa dinosaurus mungkin memiliki saluran reproduksi yang lebih kompleks.
Selain unik, fosil ini juga memperkuat teori bahwa burung modern merupakan keturunan dinosaurus. Kemiripan proses reproduksi antara titanosaurus dan burung memberi bukti tambahan tentang hubungan evolusi keduanya.
Penemuan ini sekaligus menunjukkan bahwa gangguan biologis seperti yang terjadi pada hewan modern juga bisa terjadi pada dinosaurus jutaan tahun lalu.
Bagi ilmuwan, satu telur fosil kecil ini membuka jendela baru untuk memahami bagaimana dinosaurus berkembang biak dan bagaimana evolusi mereka akhirnya melahirkan burung yang kita lihat saat ini.
(rns/rns)