Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, pernah mengirim ribuan ubur-ubur ke luar angkasa dalam sebuah eksperimen unik pada awal 1990-an. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana makhluk hidup berkembang di lingkungan tanpa gravitasi.
Pada 1991, sekitar 2.478 ubur-ubur muda (polip) diluncurkan ke orbit menggunakan pesawat ulang-alik Columbia dalam misi sains luar angkasa. Para ilmuwan ingin mengetahui bagaimana organisme yang tumbuh di kondisi mikrogravitasi mengembangkan kemampuan merasakan arah gravitasi.
Eksperimen ini dipimpin oleh peneliti Dorothy Spangenberg, yang merancang percobaan untuk mempelajari bagaimana makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungan tanpa gravitasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Discover Wildlife, meski tampak sangat berbeda dengan manusia, ubur-ubur ternyata memiliki sistem biologis yang mirip dalam hal mendeteksi gravitasi. Pada tahap dewasa yang disebut medusa, ubur-ubur memiliki kristal kalsium sulfat di tubuhnya.
Kristal ini bergerak mengikuti gaya gravitasi dan merangsang sel rambut sensorik yang kemudian mengirim sinyal ke sistem saraf. Sistem ini serupa dengan mekanisme pada manusia. Di telinga bagian dalam manusia terdapat struktur berbasis kalsium yang membantu otak mendeteksi arah dan keseimbangan tubuh.
Karena kesamaan tersebut, para ilmuwan menggunakan ubur-ubur sebagai model untuk memahami bagaimana manusia, terutama bayi yang mungkin lahir di luar angkasa di masa depan, akan mengembangkan kemampuan merasakan gravitasi.
Pengiriman Ubur-ubur
Dalam eksperimen tersebut, ubur-ubur dikirim dalam kantong berisi air laut buatan. Para peneliti di dalam pesawat mempercepat pertumbuhan mereka selama misi berlangsung. Eksperimen itu berlangsung sekitar sembilan hari. Selama periode tersebut, jumlah ubur-ubur berkembang pesat hingga mencapai sekitar 60 ribu individu.
Namun setelah kembali ke Bumi, para peneliti menemukan sesuatu yang menarik. Ubur-ubur yang tumbuh di luar angkasa ternyata kesulitan berenang secara normal ketika kembali ke lingkungan dengan gravitasi. Banyak di antaranya mengalami semacam 'vertigo' atau kebingungan orientasi karena sistem keseimbangan mereka berkembang di kondisi tanpa gravitasi.
Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana organisme hidup beradaptasi dengan lingkungan mikrogravitasi. Hasilnya membantu ilmuwan memahami tantangan biologis yang mungkin dihadapi manusia jika suatu hari nanti hidup, berkembang biak, atau bahkan lahir di luar angkasa.
Eksperimen ubur-ubur ini juga menjadi salah satu contoh bagaimana hewan digunakan dalam penelitian luar angkasa untuk mempelajari efek jangka panjang lingkungan ruang angkasa terhadap makhluk hidup.
(rns/rns)