Seorang astronom ternama dari Caltech yang meneliti eksoplanet ditembak dan tewas di luar rumahnya di daerah pedesaan dekat Los Angeles. Carl Grillmair (67) dinyatakan meninggal oleh paramedis di tempat kejadian setelah deputi sheriff menanggapi panggilan darurat 911. Pemeriksa medis menyimpulkan kematiannya sebagai pembunuhan dengan luka tembak di bagian tubuh atas.
Departemen Sheriff LA County menyatakan telah menangkap seorang tersangka, Freddy Snyder (29), di dekat lokasi. Snyder didakwa atas pembunuhan Grillmair, bersama dengan dakwaan perampokan dan pembajakan mobil. Belum jelas apakah Snyder memiliki hubungan dengan Grillmair.
Grillmair, anggota Infrared Processing and Analysis Center (IPAC) Caltech, menghabiskan lebih dari empat dekade mempelajari eksoplanet jauh dan struktur yang membentuk galaksi kita.
Sebagai peneliti utama di teleskop luar angkasa Hubble dan teleskop luar angkasa Spitzer milik NASA, salah satu minat utamanya adalah 'aliran bintang' yang berputar di pinggiran Bima Sakti. Pergerakan aliran bintang ini menyimpan petunjuk tentang bagaimana Bima Sakti berevolusi miliaran tahun, termasuk melalui tabrakan dengan galaksi lain.
Di antara kontribusinya yang paling menonjol adalah memimpin penelitian yang terbit di 2007. Untuk pertama kali, riset itu menangkap cukup cahaya dari eksoplanet jauh guna mengidentifikasi molekul di atmosfernya. Penemuan ini dilakukan menggunakan teleskop Spitzer. Meski penelitian tersebut sangat inovatif, Grillmair dan komunitas sains awalnya berharap dapat mendeteksi keberadaan air, tapi tak menemukannya.
Akan tetapi, Grillmair gigih dan tak lama kemudian membuat penemuan monumental dengan mendeteksi tanda air di planet lain. Penemuan ini membuatnya meraih medali NASA untuk pencapaian ilmiah luar biasa pada tahun 2011.
Astronom IPAC Sergio Fajardo-Acosta, yang bekerja bersama Grillmair di Caltech selama 26 tahun mengatakan bahwa di waktu luang, Grillmair gemar menerbangkan pesawat melintasi gurun dan memperbaiki rumah. Ia sengaja tinggal di daerah terpencil Antelope Valley di California agar lebih mudah meneliti bintang-bintang di malam hari dari rumahnya sendiri, di mana ia membangun observatorium pribadi.
Fajardo-Acosta dan rekan-rekan berduka atas kepergian Grillmair. "Selalu menyenangkan melihat kreativitas Carl dalam menjalankan sains. Metode-metodenya dalam studi eksoplanet dan struktur galaksi benar-benar seperti pekerjaan detektif, memungkinkannya menyimpulkan peristiwa yang terjadi miliaran tahun yang lalu," cetusnya yang dikutip detikINET dari Futurism.
Kematian Grillmair menyusul tragedi pembunuhan ilmuwan terkemuka lainnya. Bulan Desember, Nuno Loureiro, fisikawan MIT yang dianggap pelopor di bidang fusi nuklir, ditembak dan tewas di rumahnya di Brookline, Massachusetts. Terduga pembunuhnya, Neves Valente, adalah mantan mahasiswa fisika yang pernah mengikuti program universitas yang sama di Portugal dengan Loureiro lebih dari dua dekade sebelumnya.
Beberapa hari sebelum membunuh mantan teman sekelasnya itu, Valente melakukan penembakan massal mengerikan di Brown University yang menewaskan dua mahasiswa. Ia kemudian ditemukan tewas yang tampaknya akibat bunuh diri setelah diburu polisi selama berhari-hari.
Simak Video "Video: Ilmuwan Harvard Ngaku Temukan Lokasi Tuhan Berada "
(fyk/fay)