Indonesia memiliki potensi besar logam tanah jarang (LTJ) yang menjadi bahan strategis untuk industri teknologi tinggi, pertahanan, hingga energi. Meski potensinya tersebar di sejumlah wilayah, Indonesia dihadapi tantangan besar dalam aspek eksplorasi, keekonomian, dan teknologi ekstraksi.
Logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari mesin jet pesawat tempur, pesawat komersial, sistem rudal, elektronik, alat komunikasi, satelit, hingga perangkat pertahanan canggih. Di tengah meningkatnya kebutuhan global, potensi LTJ Indonesia dinilai dapat memperkuat posisi negara dalam rantai pasok mineral strategis dunia.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., mengatakan riset logam tanah jarang di Indonesia sebenarnya telah berlangsung cukup lama, termasuk melalui kerja sama internasional.
"Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang," ungkap Lucas dikutip dari pernyataan tertulis, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, perhatian global terhadap logam tanah jarang meningkat tajam setelah Tiongkok membatasi ekspor komoditas tersebut. Kebijakan ini memicu kekhawatiran negara-negara industri yang sangat bergantung pada LTJ untuk sektor teknologi dan manufaktur.
"Sejak itulah eksplorasi logam tanah jarang digalakkan di seluruh dunia. Jepang menjadi salah satu promotor utama riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika, melalui pendanaan penelitian dan beasiswa," jelasnya.
Meski memiliki potensi besar, Lucas menekankan pentingnya membedakan antara potensi geologi dan realitas produksi. Berbeda dengan emas dan tembaga yang sudah ditambang secara komersial, LTJ di Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi dan kajian keekonomian.
Simak Video "Video: Kejagung Terkait Peluang Usut Korupsi Penyelundupan Logam Tanah Jarang"
(agt/fay)