Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Profesi Bergaji Besar yang Kini Jadi Ladang Pengangguran, Ada Kerjaanmu?

Profesi Bergaji Besar yang Kini Jadi Ladang Pengangguran, Ada Kerjaanmu?


Aisyah Kamaliah - detikInet

Ilustrasi uang
Profesi Bergaji Besar yang Kini Jadi Ladang Pengangguran, Ada Kerjaanmu? Foto: Getty Images/Andrzej Rostek
Jakarta -

Sejumlah profesi yang identik dengan penghasilan tinggi terdampak perubahan besar yang melanda pasar tenaga kerja global. Dulunya dianggap punya jenjang karier menjanjikan dan prestise sosial, kini mereka menghadapi risiko kehilangan pekerjaan kian besar.

Fenomena tersebut tercermin dari meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor. Efisiensi yang diperkirakan hanya bersifat sementara, telah berkembang menjadi restrukturisasi jangka panjang di banyak perusahaan besar.

Dikutip detikINET dari CNBC Indonesia, contoh sektor yang paling banyak mengalami tekanan adalah industri teknologi, jasa keuangan, dan konsultan bisnis. Semua seiring biaya operasional yang semakin ditekan oleh perusahaan, serta upaya efisiensi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Data firma konsultan Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik dibandingkan Maret 2026 sebesar 3,6%.

Sejumlah bisnis, khususnya di sektor teknologi mengatakan AI jadi salah satu alasan pengurangan pegawai terjadi. AI jadi alasan Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10%. Perusahaan menjelaskan tengah berupaya merampingkan operasional dan membiayai investasi di bidang AI.

Nike pun turut mengurangi 2% atau 1.400 orang karyawan. Sebagian besar berasal dari departemen teknologi dengan alasan menyederhanakan operasional global. Snap akan memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan, alasannya untuk meningkatkan efisiensi.

Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak kondisi ini terjadi pada November 2022 lalu.

Easy money era telah berakhir

Era easy money telah berakhir. Perusahaan tak lagi saling bakar uang demi merekrut talenta digital terbaik dengan tawaran gaji dua digit hingga fasilitas opsi saham. Ditambah, kebijakan moneter global dan tingginya suku bunga membuat aliran modal ventura (venture capital) mengering.

Akibatnya, perusahaan teknologi mulai dari skala startup hingga raksasa Big Tech terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.

Ironisnya, para pekerja dengan gaji tertinggilah yang paling awal terkena dampak efisiensi ini demi menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

Kondisi serupa terjadi di sektor perbankan investasi (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas aksi korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO) secara global membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.

AI Jadi Ancaman Nyata

Akselerasi adopsi Kecerdasan Buatan (AI) generatif menjadi katalis utama yang mengubah lanskap ini. AI tidak lagi sekadar menggantikan pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis pekerjaan para pekerja kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi.

Profesi antara lain analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini bisa direplikasi oleh sistem AI dengan biaya yang jauh lebih murah dan waktu yang lebih efisien.

Banyak perusahaan menyadari bahwa dengan mengintegrasikan AI, mereka dapat memangkas jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar, di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis menjelaskan alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena dunia tengah menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, melansir Wall Street Journal.

Dampak Psikologi dan Finansial

Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan. Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka sebelumnya seperti cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan yang ada terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji yang terlalu tinggi.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade) demi bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.



(ask/afr)








Hide Ads