Seberapa jauh jarak antara Amerika Serikat dan Rusia? Kebanyakan orang akan menunjuk peta dunia dan membayangkan luasnya Samudra Pasifik atau bentangan Selat Bering yang memisahkan Alaska dan Siberia. Pada titik tersempitnya, selat ini memiliki lebar sekitar 88 kilometer.
Namun, fakta geografis yang jarang diketahui banyak orang adalah keberadaan dua titik daratan di mana kamu bisa berdiri di wilayah Amerika Serikat, memandang ke halaman belakang rumah orang lain, dan menatap langsung ke wilayah Rusia hanya dari jarak pandang mata. Tempat tersebut benar-benar ada.
Selamat datang di Kepulauan Diomede. Dua pulau berbatu kecil, tandus, dan terisolasi di tengah Selat Bering yang hanya dipisahkan oleh lautan selebar 3,8 kilometer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu pulau milik Amerika, satu lagi milik Rusia. Di musim dingin, saat lapisan es terbentuk tebal, secara teknis seseorang bisa berjalan kaki menyeberangi kedua pulau ini. Namun, jika kamu nekat melakukannya, kamu tidak hanya melintasi perbatasan internasional yang ketat, tetapi juga melompati waktu menuju masa depan.
Inilah kisah aneh tentang "Pulau Besok" (Tomorrow Island) dan "Pulau Kemarin" (Yesterday Island), perbatasan paling ekstrem antara dua kekuatan besar dunia.
Penemuan yang Sempat Terlupakan
Sejarah mencatat penemuan kepulauan ini dimulai pada tahun 1648 oleh penjelajah Rusia, Semyon Ivanovich Dezhnyov. Memimpin armada lima kapal kecil bernama Koch, Dezhnyov berlayar mencari sumber bulu hewan di wilayah Siberia.
Meskipun ekspedisinya berakhir bencana dengan kapal-kapal yang karam, Dezhnyov melaporkan penemuan dua pulau tandus di lepas pantai Siberia. Laporan ini sempat diabaikan selama puluhan tahun.
Baru pada 16 Agustus 1728, 75 tahun kemudian, penjelajah Denmark yang mengabdi pada Angkatan Laut Kekaisaran Rusia, Vitus Bering, menemukan kembali pulau tersebut. Karena ditemukan tepat pada hari pesta Santo Diomedes menurut kalender Ortodoks Rusia, Bering menamainya Kepulauan Diomede.
Ketika Rusia menjual Alaska kepada Amerika Serikat pada tahun 1867, batas wilayah kedua negara ditarik tepat di celah sempit antara dua pulau tersebut. Pulau yang lebih kecil di utara, Little Diomede, menjadi milik Amerika Serikat. Sementara pulau yang lebih besar di selatan, Big Diomede (dikenal sebagai Pulau Ratmanov di Rusia), tetap menjadi milik Rusia.
Mesin Waktu Alami: Beda Waktu 21 Jam
Keunikan geografis paling mencolok dari Kepulauan Diomede adalah posisinya terhadap Garis Batas Waktu Internasional (International Date Line). Pada tahun 1884, dunia menyepakati garis imajiner di Samudra Pasifik sebagai penentu pergantian tanggal kalender.
Garis ini ditarik tepat di antara kedua pulau tersebut. Akibatnya, meskipun jarak fisiknya kurang dari 4 kilometer, waktu di Big Diomede (Rusia) selalu 21 jam lebih cepat dibandingkan Little Diomede (AS).
Fenomena ini menciptakan situasi unik: warga di Little Diomede yang melihat ke seberang lautan ke arah Big Diomede sejatinya sedang melihat "masa depan" atau hari esok. Itulah sebabnya Big Diomede dijuluki Tomorrow Island dan Little Diomede sebagai Yesterday Island.
Penduduk Asli dan Dampak Perang Dingin
|
Foto yang memperlihatkan garis pantai Big Diomede. Foto: Historicflix
|
Kehidupan mereka berubah drastis akibat geopolitik. Selama Perang Dunia II, Big Diomede menjadi pangkalan militer Soviet dan penduduk aslinya dipindahkan paksa ke daratan utama. Situasi memburuk pasca perang ketika hubungan AS dan Uni Soviet mendingin. Kawasan ini menjadi garis depan "Tirai Es" (Ice Curtain). Siapa pun yang mencoba menyeberang antar pulau berisiko ditangkap atau ditembak.
Hingga hari ini, meskipun Uni Soviet telah bubar, perjalanan antar pulau tetap dilarang keras. Big Diomede kini difungsikan sebagai stasiun cuaca Rusia, namun tetap tertutup bagi warga sipil dari seberang.
Ancaman Perubahan Iklim
Saat ini, kehidupan hanya bertahan di Little Diomede (AS). Di sana terdapat kota kecil bernama IΕaliq yang dihuni kurang dari 100 orang, lengkap dengan satu sekolah dan satu toko. Namun, isolasi menjadi tantangan terbesar.
Tidak ada pelabuhan maupun bandara permanen di pulau berbatu ini. Pasokan logistik hanya datang sekali setahun via kapal kargo musim panas yang diangkat menggunakan derek. Sebelumnya, penduduk mengandalkan "landasan pacu es" di musim dingin. Lapisan es laut setebal empat kaki biasanya diratakan agar pesawat kecil bisa mendarat, menjadi urat nadi transportasi pulau tersebut.
Namun, perubahan iklim global membawa dampak nyata. Pada tahun 2018, badai besar menghancurkan es laut tersebut dan merusak landasan pacu alami yang selama ini menjadi andalan. Penduduk setempat bersaksi bahwa es tersebut tidak pernah kembali terbentuk seperti sedia kala.
Kini, akses ke Little Diomede menjadi sangat terbatas, hanya bisa dijangkau helikopter atau kapal, yang keduanya sangat bergantung pada cuaca ekstrem subarktik dengan suhu bisa mencapai -25 derajat Celcius. Hilangnya es laut juga mematikan mata pencaharian tradisional penduduk dalam berburu kepiting dan memancing.
Masa depan ekosistem dan kehidupan manusia di "Pulau Kemarin" ini kini berada dalam ketidakpastian, menjadi saksi bisu dampak pemanasan global di salah satu titik paling terpencil di muka bumi.
(afr/afr)


