Seorang wanita di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial lantaran menembak mati seekor burung hantu karena merasa terganggu. Yang bersangkutan kini berurusan dengan pihak kepolisian.
"Terduga pelaku diketahui merupakan warga setempat yang merasa terganggu oleh keberadaan burung hantu jenis Tyto Alba di sekitar rumahnya," kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra, dilansir detikbali, Rabu (21/1/2026).
Burung tersebut ditembak menggunakan senapan angin hingga mati pada Rabu (14/1) malam. Aksi itu direkam oleh saksi dan diunggah ke media sosial hingga menuai perhatian serta keprihatinan. Henry menjelaskan, jajaran Polres Belu langsung melakukan klarifikasi dan pendalaman di lapangan secara profesional dan humanis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, terduga pelaku diproses hukum atas dugaan penganiayaan terhadap hewan yang mengakibatkan kematian sebagaimana diatur dalam Pasal 337 ayat (2) KUHP Pidana Baru, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah.
Mengenal Burung Hantu Tyto alba
Tyto alba atau serak jawa atau burung hantu lumbung atau burung hantu gudang, kepalanya besar dan bulat tanpa jumbai telinga. Burung hantu ini memiliki sayap bulat dan ekor pendek yang ditutupi bulu halus berwarna putih atau cokelat muda. Punggung dan kepala burung berwarna cokelat muda dengan bintik-bintik hitam dan putih yang bervariasi, sedangkan bagian bawahnya berwarna putih keabu-abuan.
Burung hantu ini penampilannya mencolok. Betina cenderung lebih besar, dengan berat sekitar 570 gram, sedangkan jantan sekitar 470 gram. Betina tubuhnya sedikit lebih panjang (34 hingga 40 cm untuk betina, 32 hingga 38 cm untuk jantan) dan rentang sayap lebih panjang.
Dikutip detikINET dari Animal Diversity, rentang sayap jantan dan betina berkisar antara 107 hingga 110 cm. Hingga 35 subspesies Tyto alba diakui berdasarkan perbedaan ukuran tubuh dan warna.
Tyto alba hidup menyendiri atau berpasangan. Mereka aktif di malam hari, dan bertengger di siang hari di rongga pohon, celah tebing, tepi sungai, lumbung, kotak sarang, menara gereja, dan struktur buatan manusia lainnya.
Mereka adalah pemburu yang sangat efisien dan diduga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersantai. Sebagian besar burung hantu ini bersifat menetap di habitatnya yang tersebar di berbagai wilayah di dunia.
Tyto alba adalah predator nokturnal yang menyukai mamalia kecil seperti tikus, kelinci, sampai terwelu. Mereka juga dapat memangsa burung kecil. Mereka mulai berburu sendirian setelah Matahari terbenam. Untuk mendeteksi pergerakan di padang rumput, mereka mengembangkan penglihatan cahaya redup yang sangat sensitif. Namun, saat berburu dalam kegelapan total, burung hantu mengandalkan pendengarannya yang tajam untuk menangkap mangsa.
Mereka dianggap burung yang paling akurat dalam menemukan mangsa berdasarkan suara. Ciri lain yang menambah keberhasilan berburu mereka adalah bulu-bulu halus mereka, yang membantu meredam suara pergerakan. Maka, burung hantu ini dapat mendekati mangsanya hampir tanpa terdeteksi.
Tyto alba menyerang mangsa dengan terbang rendah (1,5 m-4,5 meter di atas tanah), menangkap mangsa dengan kaki, dan menggigit bagian belakang tengkorak dengan paruhnya. Kemudian mereka menelan mangsanya secara utuh.
Peneliti Ahli Madya yang juga Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa Tyto alba memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. Seekor burung hantu dewasa mampu memakan beberapa ekor tikus per malam.
Namun menurutnya, penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama memerlukan pengelolaan yang cermat. Jika populasi Tyto alba tidak dikendalikan dan makanan utama mereka menipis, mereka bisa memangsa spesies lain seperti burung kecil, kelelawar, bahkan ternak kecil.
"Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan dan pengaturan populasi secara berkelanjutan," kata Yudhistira, dikutip dari situs resmi BRIN.
(fyk/fay)