Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Gunung Es Raksasa Antartika Berubah Jadi Biru, Pertanda Apa?

Gunung Es Raksasa Antartika Berubah Jadi Biru, Pertanda Apa?


Rachmatunnisa - detikInet

The worlds largest iceberg, named A23a, is seen in Antarctica, January 14, 2024, in this picture obtained from social media.  Rob Suisted - http://naturespic.com/via REUTERS  THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT.
Gunung Es Raksasa Antartika Berubah Jadi Biru, Pertanda Apa? Foto: Rob Suisted via REUTERS
Jakarta -

Foto satelit terbaru menunjukkan bongkahan es raksasa A23a di Antartika berubah menjadi massa es berwarna biru cerah atau yang disebut 'blue mush'. Konon, ini pertanda bahaya.

Setelah hampir empat dekade mengambang di Samudra Selatan, A23a yang pernah menjadi yang terbesar di dunia itu kini menunjukkan tanda-tanda akhir hidupnya. Blue mush merupakan pertanda bongkahan es yang fenomenal ini sedang mencair dan pecah menyusul perjalanannya yang panjang sejak 1986.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gunung es ini pertama kali terlepas dari Filchner-Ronne Ice Shelf di Antartika hampir 40 tahun lalu dan sempat terperangkap di dasar laut selama bertahun-tahun. Setelah akhirnya bebas dari jebakan dasar laut sekitar tahun 2020, A23a mulai terapung bebas, berputar terpengaruh arus laut, dan perlahan menjauh dari benua es tersebut.

ADVERTISEMENT

Perubahan Warna

Foto terbaru yang diambil oleh satelit NASA Terra pada 26 Desember 2025 menunjukkan permukaan A23a dipenuhi kolam air lelehan yang berwarna biru mencolok. Lapisan air ini terbentuk ketika es di permukaan mulai kehilangan struktur padatnya dan air mencair menumpuk di cekungan-cekungan kecil pada bongkahan es.

"Kolom air yang terlihat itu menunjukkan bahwa struktur es sudah melemah secara signifikan dan proses pecahnya gunung es terus dipercepat," menurut Ted Scambos, ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder, dikutip dari Live Science.

Ahli lain, Chris Shuman, pensiunan glasiolog yang kini meneliti sejarah A23a menambahkan, "Warna biru yang masih terlihat setelah sekian lama menunjukkan sejarah panjang es tersebut dan bagaimana ia berubah seiring waktu."

Selama beberapa tahun terakhir, A23a telah kehilangan sebagian besar massanya, pecahan-pecahan besar terus terlepas dari bongkahan utama saat ia mengapung menuju perairan yang lebih hangat. Proses inilah yang mempercepat akhir eksistensi gunung es ini setelah 40 tahun teramati ilmuwan dari seluruh dunia.

Meskipun pencairan gunung es seperti A23a tidak secara langsung menaikkan permukaan laut, karena es laut sudah terapung di air, fenomena ini tetap menjadi indikator perubahan iklim global dan dampaknya terhadap sistem es di Antartika serta lautan sekitarnya.

Kisah A23a adalah contoh nyata bagaimana formasi es terbesar di planet ini berinteraksi dengan perubahan lingkungan selama puluhan tahun. Dari kejayaan sebagai raksasa es yang berada di puncak daftar sampai masa akhirnya yang penuh warna biru dan fragmentasi, A23a memberi pelajaran penting bagi pemantauan perubahan iklim dan dinamika laut dunia.

Apakah A23a sudah memasuki fase terakhir hidupnya sepenuhnya masih ditunggu oleh komunitas ilmuwan. Sementara itu, citra satelit terus memantau perubahan dramatis ini dalam beberapa bulan mendatang.




(rns/afr)





Hide Ads