Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Mengapa Greenland Disebut 'Tanah Hijau' Padahal Es

Mengapa Greenland Disebut 'Tanah Hijau' Padahal Es


Rachmatunnisa - detikInet

Pemilu di Greenland - Tanah Orang Inuit - Bakal Menjadi Perhatian Dunia, Mengapa?
Foto: DW News
Jakarta -

Ketertarikan Donald Trump mencaplok Greenland kembali memicu perbincangan global. Wilayah Arktik ini dipandang strategis secara geopolitik dan kaya sumber daya. Di balik ambisi politik tersebut, pertanyaan ilmiah yang tampak sederhana tetapi penting: mengapa wilayah es ini justru dinamai Greenland.

Greenland, yang secara harfiah berarti 'tanah hijau', hampir seluruh wilayahnya tertutup es. Ada sejarah menarik mengapa daerah yang namanya mencitrakan kehijauan berubah menjadi lautan putih es.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini bukan sekadar nama. Jawabannya ada pada sejarah iklim Bumi dan proses geologi jutaan tahun. Berdasarkan penelusuran ilmuwan, sekitar 3 juta tahun lalu, Greenland tidak memiliki lapisan es tebal seperti sekarang.

Sesuai namanya, pulau besar ini kemungkinan memiliki area luas yang hijau, dengan vegetasi sebelum perubahan iklim menciptakan iklim dingin ekstrem yang memicu pembentukan es.

ADVERTISEMENT

"Meskipun sulit dipercaya, ada masa ketika Greenland sebagian besar tertutup oleh warna hijau seperti yang tertera dalam namanya, bukan es," demikian tulis laporan yang dikutip dari Oceanwide Expeditions.

Kalimat ini menegaskan bahwa nama Greenland bukan sekadar mitos geografis, melainkan mencerminkan kondisi historisnya jauh sebelum zaman glasial mempertajam iklim kutub.

Bagaimana Es Terbentuk

Perubahan yang menyebabkan Greenland dipenuhi es tidak terjadi semalaman. Menurut riset geologi, ada beberapa faktor yang berkontribusi:

  • Penurunan CO2 dan pendinginan global

Penelitian dari tim ilmuwan di University of Leeds dan University of Bristol menunjukkan bahwa penurunan kadar karbon dioksida di atmosfer memberi efek besar pada suhu global. Penurunan ini menurunkan suhu udara dan menyebabkan salju tidak mencair lama setiap musim panas, yang akhirnya menumpuk menjadi lapisan es tebal.

  • Era es global (Pleistosen)

Berdasarkan kajian ilmiah lebih luas, Greenland mulai dipenuhi es secara besar-besaran sejak kira-kira 2,6-3 juta tahun lalu ketika dunia memasuki era glasial, periode ketika suhu global jauh lebih dingin daripada saat ini. Selama periode tersebut, banyak daerah di belahan Bumi utara memiliki gletser yang jauh lebih luas.

Tetap Disebut Greenland

Menyebut tempat itu 'Greenland' mungkin terasa ironis saat melihat foto satelit yang menampilkan hampir seluruh daratan tertutup es tebal. Namun, nama ini sebenarnya warisan sejarah dan geografis masa lalu, sebelum proses klimatologis dan geologis merombak wajah pulau itu menjadi seperti sekarang.

Dalam istilah ilmiah, dinamika pembentukan lapisan es Greenland menjadi contoh penting bagaimana suhu global dan atmosfer yang berubah dapat merombak lanskap Bumi secara drastis, dari yang hijau dan hidup menjadi sebuah tempat es raksasa yang menyumbangkan kontribusi besar terhadap permukaan laut global.




(rns/fay)









Hide Ads