Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Puluhan Ilmuwan Berlayar Menuju 'Gletser Kiamat', Ada Apa?

Puluhan Ilmuwan Berlayar Menuju 'Gletser Kiamat', Ada Apa?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Gletser Kiamat
Puluhan Ilmuwan Berlayar Menuju 'Gletser Kiamat', Ada Apa? Foto: NBC News
Jakarta -

Sekelompok ilmuwan berlayar menuju gletser paling berbahaya di Antartika, yang dijuluki "Gletser Kiamat", demi mempelajarinya dari jarak dekat. Gletser Thwaites yang masif ini ukurannya seluas negara bagian Florida.

Jika mencair sepenuhnya, volume air yang dikandungnya mampu menaikkan permukaan laut global hingga lebih dari 60 sentimeter. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gletser ini sudah mulai mencair dengan sangat cepat. Namun, masa depannya masih menjadi tanda tanya besar.

Hampir 40 peneliti berangkat menggunakan kapal dari pelabuhan di Selandia Baru untuk mencari jawaban. Serangkaian eksperimen menarik direncanakan, meski semua orang sadar tidak ada jaminan segalanya akan berjalan mulus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menyiapkan Rencana A sampai F," ujar Chris Pierce, ahli glasiologi dari Montana State University. Timnya berencana menggunakan radar udara untuk melakukan 'rontgen' pada lapisan es Thwaites.

ADVERTISEMENT

Sudah tidak diragukan lagi bahwa Thwaites mencair dengan sangat cepat. Namun, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat hal itu terjadi, dan apa dampak yang akan ditimbulkannya?

Para ilmuwan khawatir mencairnya gletser ini dapat memicu keruntuhan seluruh lapisan es Antartika Barat. Lapisan es tersebut memiliki ketebalan hingga 1,6 kilometer di beberapa bagian. Jika runtuh, permukaan laut bisa naik hingga 4,5 meter, sebuah angka yang akan menenggelamkan banyak wilayah di Bumi dalam kurun waktu beberapa abad.

Meski ini adalah skenario terburuk, dikutip detikINET dari Futurism, kemungkinannya terlalu fatal untuk diabaikan, apalagi terdapat bukti bahwa peristiwa serupa pernah terjadi sekitar 120.000 tahun lalu.

Penelitian terbaru menunjukkan Thwaites jauh lebih rentan terhadap pemanasan global dari perkiraan sebelumnya. Temuan paling mengkhawatirkan adalah bagian bawah gletser yang sangat luas, yang dulunya dianggap terlindungi karena menempel dasar laut, ternyata terpapar air laut yang hangat.

Air ini menyelinap masuk saat pasang laut mengangkat gletser dari dasar laut, memicu pencairan dahsyat. "Thwaites benar-benar hancur di depan mata kita," ungkap Doug Benn, ahli glasiologi dari University of St. Andrews di Skotlandia.

Salah satu eksperimen paling unik dalam misi ini melibatkan bantuan dari sumber yang tak terduga, anjing laut. Alih-alih hanya mengandalkan robot, peneliti memasangkan sensor pada mamalia laut berlemak tebal ini. Sensor tersebut akan mengumpulkan data suhu dan salinitas laut, yang kemudian dikirimkan ke satelit.

Lars Boehme, ahli ekologi University of St. Andrews, menjelaskan anjing laut selalu pergi ke tempat di mana ada makanan. Sering kali, lokasi tersebut adalah tempat di mana fenomena lingkungan dan oseanografi penting sedang terjadi.




(fyk/fyk)







Hide Ads
LIVE