Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Meganeura, Capung Terbesar yang Pernah Hidup di Bumi

Meganeura, Capung Terbesar yang Pernah Hidup di Bumi


Rachmatunnisa - detikInet

Serunya Berburu Foto Aneka Capung di Wisata Jopuro Banyuwangi
Ilustrasi capung. Foto: Eka Rimawati
Daftar Isi
Jakarta -

Sebelum dinosaurus menguasai daratan, langit purba di Bumi dipenuhi oleh raksasa yang tidak kalah menakjubkan. Bukan burung, tetapi serangga terbang mirip capung berukuran raksasa bernama Meganeura.

Fosil Meganeura menunjukkan bahwa makhluk ini merupakan serangga terbang terbesar yang pernah eksis dalam sejarah Bumi. Meganeura diperkirakan hidup sekitar 305-299 juta tahun lalu pada periode Karboniferus Akhir, era ketika iklim dan kondisi atmosfer sangat berbeda dibanding sekarang. Kondisi saat itu memungkinkan evolusi serangga berukuran besar.

Mengutip laporan Click PetrΓ³leo e GΓ‘s yang ditulis Valdemar Medeiros, Meganeura memiliki rentang sayap antara 65 hingga hampir 75cm, ukuran yang bahkan bisa lebih besar dari sayap burung falcon modern. Ini membuatnya jauh lebih besar dibanding capung masa kini yang biasanya hanya punya sayap sekitar 10-12cm saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Dengan rentang sayap hampir 75cm, sayap yang lebih besar daripada falcon modern, serta dominasi mutlak di langit zaman purba, Meganeura tercatat dalam sejarah sebagai serangga terbang terbesar yang pernah ada di Bumi," tulis laporan tersebut.

Ukuran raksasa ini bukan sekadar angka menarik, mengingat tubuhnya didukung oleh otot dada yang kuat dan sistem sayap yang maju untuk zaman itu, memungkinkan Meganeura mengejar mangsa dan menjadi predator udara yang dominan.

Capung raksasaPerbandingan ukuran capung raksasa dengan serangga purba lainnya, capung modern, dan manusia dewasa. Foto: ScienceSource

Rahasia Gigantisme Meganeura

Mengapa Meganeura bisa tumbuh sangat besar? Laporan tersebut menjelaskan bahwa kondisi atmosfer purba sangat berbeda dibandingkan dengan hari ini. Pada periode Karboniferus, kadar oksigen diperkirakan antara 30% hingga 35%, jauh lebih tinggi daripada sekitar 21% saat ini. Kondisi ini mendukung sistem pernapasan serangga yang mengandalkan saluran trakea untuk mengantarkan oksigen ke jaringan tubuh.

"Meganeura adalah bukti hidup yang terawetkan sebagai fosil, bahwa ukuran maksimum serangga berkaitan langsung dengan komposisi udara," tulis laporan tersebut.

Akibatnya, serangga raksasa seperti Meganeura menjadi mungkin, sementara insek modern tidak bisa tumbuh setinggi itu di atmosfer dengan kadar oksigen lebih rendah.

Selama hidupnya, Meganeura tak sekadar berukuran besar. Ia juga menjadi predator udara teratas. Tubuhnya dilengkapi dengan mata majemuk besar dan sayap kuat, serta kemungkinan memangsa serangga lain atau hewan kecil yang hidup di hutan purba.

Fosil-fosil Meganeura yang paling lengkap menunjukkan bahwa tubuhnya sendiri lebih besar dan kuat dibanding serangga saat ini, menjadikannya berada di puncak ekosistem udara pada zamannya.

Kepunahan Capung Raksasa

Perubahan besar yang membuat Meganeura mungkin pun berkontribusi pada kepunahannya. Ketika periode Karboniferus berakhir, kadar oksigen menurun, iklim berubah, dan hutan-hutan purba mulai lenyap. Perubahan ini membuat tegangan fisiologis pada sistem pernapasan serangga yang besar, sehingga tidak mampu bertahan dalam kondisi baru.

Selain itu, kemunculan predator udara baru seperti burung dan vertebrata lain juga mempersempit ceruk ekologis Meganeura, sehingga akhirnya serangga raksasa ini lenyap dari sejarah Bumi.

Penemuan Meganeura dan fosil-fosil lain dari era Karboniferus menjadi studi penting bagi ilmuwan palaeontologi. Mereka memberi petunjuk tentang bagaimana lingkungan, terutama komposisi atmosfer, memengaruhi ukuran dan batas makhluk hidup di masa lalu.

Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa serangga raksasa tidak lagi muncul di dunia modern, serta hubungan evolusioner antara serangga-serangga purba dengan capung dan capung air saat ini.




(rns/afr)







Hide Ads