Jepang Krisis Anak, China Ikut Waspada

Jepang Krisis Anak, China Ikut Waspada

ADVERTISEMENT

Jepang Krisis Anak, China Ikut Waspada

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 25 Jan 2023 22:10 WIB
Seorang pria berjalan melewati shelter berisi boneka yang dibuat dengan tangan dan ditempatkan di sekitar desa oleh penduduk lokal Tsukimi Ayano untuk menggantikan populasi lokal yang semakin berkurang pada 22 April 2016 di desa Nagoro, di Miyoshi, Jepang.
Pria berjalan melewati shelter berisi boneka yang ditempatkan di sekitar desa oleh warga lokal untuk menggantikan populasi yang makin menyusut pada 22 April 2016 di desa Nagoro, di Miyoshi, Jepang. Foto: Financial Review
Jakarta -

Ohi, salah satu desa pegunungan yang indah di Jepang, berjuang untuk bisa bertahan. Seperti banyak pedesaan lain di Jepang, populasi Ohi yang berkekuatan 8.000 orang menyusut dengan cepat.

Lebih dari 60% populasi desa ini berusia di atas 65 tahun. Penduduknya berjuang tanpa orang-orang usia kerja yang berbondong-bondong pergi ke kota besar selama tiga dekade terakhir.

"Saya khawatir. Kami ingin menjaga lingkungan di sini selama 100 tahun ke depan, tetapi depopulasi sangat parah di daerah ini. Penting bagi kami untuk bekerja mempertahankan kota ini," kata Shigeo Hagihara, warga lokal berusia 65 tahun, dikutip dari Financial Review, Rabu (25/1/2023).

Hagihara menjalankan organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menarik kaum muda kembali ke wilayah di prefektur Fukui tengah Jepang ini. Berbagai program yang dijalankan antara lain mempromosikan hutan lebat di kawasan itu, hingga menawarkan akomodasi gratis di rumah-rumah beratap jerami sehingga pengunjung dapat merasakan indahnya kehidupan desa.

Ia berharap dapat menarik orang menjauh dari kota dengan iming-iming udara segar, perumahan murah, kemampuan untuk bekerja dari jarak jauh, dan keseimbangan hidup yang menjaga kesehatan mental. Meski demikian, Hagihara tetap merasa takut karena kota itu, seperti ribuan kota lainnya di Jepang, sedang sekarat.

Krisis populasi di China

China tampaknya sudah mulai berkaca dari Jepang terkait masalah ini. Awal tahun ini, China untuk pertama kalinya mengalami penurunan populasi secara signifikan dalam 60 tahun.

Krisis demografi yang membayangi negara itu diperkirakan memiliki konsekuensi jangka panjang bagi ekonomi global, dan bisa menggagalkan prospek China untuk menyalip Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia.

Jepang, yang populasinya menurun sejak 2008, menjadi gambaran China di masa depan. Jepang telah berjuang melawan stagnasi ekonomi dan politik sejak awal 1990-an. Dengan hampir 30% orang Jepang berusia di atas 65 tahun, sistem pensiun publik negara dan infrastruktur pedesaan menanggung beban yang sangat berat.

Kehidupan kota-kota kaya di Jepang seperti Tokyo dan Osaka, memang nyaman menurut standar global. Namun di balik itu, negara ini menghadapi krisis demografis. Pedesaan di Jepang sedang berjuang memelihara infrastruktur vital seperti sekolah, rumah sakit, dan jaringan kereta api karena jumlah anak-anak dan penduduk usia kerja menyusut. Diperkirakan ada 10 juta rumah kosong di Jepang setelah migrasi massal ke kota-kota.

Ahli demografi memperingatkan China terancam menghadapi skenario serupa dalam beberapa dekade mendatang. Krisis populasi China diprediksi akan berada pada skala yang lebih besar dan lebih dramatis daripada yang dialami Jepang.

Penurunan populasi Jepang, terjadi secara bertahap dan, sejauh ini, dapat dikelola di negara yang relatif kaya dibandingkan dengan China yang sedang berkembang.

Pelajaran dari Jepang

PBB memprediksi populasi China bisa menyusut hingga 109 juta pada tahun 2050, yaitu tiga kali lebih banyak dari perkiraan pada tahun 2019.

Para ahli mengatakan upaya Jepang untuk mengelola krisis anak memberikan pelajaran bagi China dan negara lain yang menghadapi penurunan populasi. China juga punya kesempatan mempelajari kebijakan mana yang berhasil dan yang gagal di Jepang.

"Baru-baru ini, pihak berwenang China bergegas meluncurkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan kesuburan, tetapi mereka kemungkinan akan gagal seperti Jepang," kata Yi Fuxian, seorang ahli demografi di University of Wisconsin-Madison.

"Apa yang ingin dilakukan oleh pemerintah China, telah dilakukan oleh pemerintah Jepang," sebutnya.

"Pendekatan Jepang terbukti mahal dan tidak efisien untuk meningkatkan kesuburan dari 1,26 poin pada tahun 2005 menjadi 1,45 pada tahun 2015, dan kembali turun menjadi 1,23 pada tahun 2022. China, yang 'menua sebelum menjadi negara kaya', bahkan tidak memiliki sumber daya keuangan yang kuat untuk sepenuhnya mengikuti cara Jepang," jelasnya.

Dibandingkan China, Jepang punya keunggulan pernah berjaya dan menjadi negara kaya sebelum menua. Kualitas perawatan kesehatan yang tinggi juga telah berkontribusi membuat orang Jepang panjang umur dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Kembali ke desa Ohi, Hagihara berharap pandemi COVID-19 dapat mengubah pola pikir para pekerja muda Jepang dan mendorong mereka untuk mempertimbangkan bekerja dari jarak jauh di daerah pedesaan.

"Saya memiliki sedikit harapan untuk generasi muda bahwa cara berpikir mereka dapat berubah karena COVID-19 dan mereka menyadari bahwa mereka tidak perlu berada di kota untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan," harapnya.



Simak Video "Langkah Jepang Perketat Aturan Perjalanan Pelancong dari China"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT