Jepang Krisis Anak Sampai Bikin Cemas, Ini Biang Keladinya

Jepang Krisis Anak Sampai Bikin Cemas, Ini Biang Keladinya

ADVERTISEMENT

Jepang Krisis Anak Sampai Bikin Cemas, Ini Biang Keladinya

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 24 Jan 2023 21:00 WIB
Kereta adalah moda transportasi yang paling mudah dijumpai di Jepang. Salah satunya transportasi Subway Metro. Moda ini solusi bagi para pelancong atau wisatawan yang ingin hemat biaya transportasi dan cepat sampai tujuan karena dijamin bebas macet saat berkeliling menikmati Kota Tokyo, Jepang. Stasiun Subway Metro di Tokyo terlihat bersih dan nyaman.
Suasana subway di Tokyo. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan, negaranya hampir tak dapat berfungsi sebagai masyarakat karena tingkat kelahiran anjlok. Jepang diperkirakan memiliki kurang dari 800 ribu kelahiran tahun lalu. Turun dibanding tahun 1970-an, angkanya lebih dari dua juta.

"Jepang berada di ambang apakah kita dapat terus berfungsi sebagai masyarakat," kata Kishida kepada anggota parlemen. "Memfokuskan perhatian pada kebijakan mengenai anak dan mengasuh anak adalah masalah yang tidak bisa menunggu dan tidak bisa ditunda," sebutnya. Apa penyebabnya?

Masalahnya memang gawat. Jepang bisa kehilangan sepertiga populasi pada tahun 2060 jika tren itu tidak bisa dikendalikan. Perekonomiannya berada dalam ancaman besar karena jumlah pekerja produktif tidak cukup banyak.

Salah satu penyebab utama adalah masalah finansial, di mana biaya hidup terus mencekik. Di sisi lain, pendapatan atau gaji terasa stagnan.

"Pemerintah telah menyediakan insentif finansial di masa lalu dan membuat kementerian menangani rendahnya angka kelahiran. Namun kelahiran bayi masih terus turun," cetus David Boling, analis Jepang di Eurasia Group.

Bagi Katahira Kazumi, seorang ibu dari seorang anak berusia 4 tahun, satu anak sudah cukup. "Kami bertahan hidup dengan memotong tabungan kami sekarang. Anak kedua tidak terpikirkan oleh kami," katanya.

Pada tahun 2021, 5.800 pasangan suami istri Jepang berpartisipasi dalam survei di mana lebih dari setengahnya mengatakan mereka tidak memiliki anak lagi karena alasan keuangan.

Matsuda Shigeki, profesor sosiologi di Universitas Chukyo, mengatakan kepada NHK bahwa dukungan keuangan pemerintah Jepang tidak memadai, hanya sekitar setengah atau bahkan sepertiga dari apa yang disediakan oleh negara-negara besar di Barat.

Di sisi lain, kaum wanita di Jepang disinyalir makin enggan menikah dan punya anak. Terlebih, banyak di antara mereka lebih memilih mengejar karir. Jumlah wanita muda yang bekerja telah meningkat drastis.

Rendahnya angka pernikahan dan kelahiran mungkin juga disebabkan masih adanya peran tradisional untuk wanita Jepang yang belum banyak berubah, di mana mereka diharapkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak.

Dikutip detikINET dari Asia Times, bertahannya peran gender yang tidak setara di rumah tangga pada saat maraknya peluang ekonomi bagi perempuan telah membuat keseimbangan pekerjaan dan kehidupan keluarga menjadi sangat sulit bagi perempuan yang sudah menikah. Itulah yang mengurangi daya tarik pernikahan di Jepang.



Simak Video "Jepang Minta Warganya Pindah dari Tokyo, Iiming-imingi Rp 119 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT