13 Virus Purba Dibangkitkan Ilmuwan dari Tanah Beku

13 Virus Purba Dibangkitkan Ilmuwan dari Tanah Beku

ADVERTISEMENT

13 Virus Purba Dibangkitkan Ilmuwan dari Tanah Beku

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 25 Nov 2022 06:10 WIB
This picture taken on September 13, 2022 at the Glacier 3000 resort above Les Diablerets shows tourists walking on the Tsanfleuron pass free of the ice that covered it for at least 2,000 years. - The thick layer of ice that has covered a Swiss mountain pass between Scex Rouge glacier and Tsanfleuron glacier since at least the Roman era has melted away completely. Following a dry winter, the summer heatwaves hitting Europe have been catastrophic for the Alpine glaciers, which have been melting at an accelerated rate. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP) (Photo by FABRICE COFFRINI/AFP via Getty Images)
Berisiko Tinggi, Virus Purba Dibangkitkan Lagi dari Tanah Beku. Foto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images
Jakarta -

Ilmuwan menghidupkan kembali sejumlah virus purba yang telah terkunci jauh di permafrost (lapisan tanah beku) Siberia sejak Zaman Es.

Meskipun penelitian ini tak diragukan lagi terdengar berisiko, tim percaya bahwa ini adalah ancaman yang patut diperhatikan ketika kita mempertimbangkan meningkatnya bahaya pencairan permafrost dan perubahan iklim.

Dalam sebuah makalah baru yang belum ditinjau rekan sejawat, para peneliti menjelaskan bagaimana mereka mengidentifikasi dan menghidupkan kembali 13 virus dari lima clade berbeda dari sampel yang dikumpulkan di timur jauh Rusia yang dingin.

Di antara tangkapan itu, seperti dikutip dari IFL Science, mereka berhasil menghidupkan kembali virus dari sampel permafrost yang berusia sekitar 48.500 tahun.

Mereka juga menghidupkan kembali tiga virus baru dari sampel kotoran beku mamut atau gajah purba berusia 27 ribu tahun dan sepotong lapisan es yang diisi dengan wol mamut dalam jumlah besar. Tiga spesimen ini diberi nama Pithovirus mammoth, Pandoravirus mammoth, dan Megavirus mammoth.

Dua virus baru selanjutnya diisolasi dari isi perut beku serigala Siberia (Canis lupus) bernama Pacmanvirus lupus dan Pandoravirus lupus.

Virus ini menginfeksi amoeba, tidak lebih dari gumpalan bersel tunggal yang hidup di tanah dan air. Tetapi percobaan menunjukkan bahwa virus tersebut masih berpotensi menjadi patogen menular. Tim memasukkan virus ke dalam kultur amoeba hidup dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka masih mampu menyerang sel dan bereplikasi.

Proyek ini berasal dari tim peneliti di University of Aix-Marseille di Prancis yang sebelumnya menghidupkan kembali virus berusia 30 ribu tahun yang ditemukan di permafrost Siberia pada tahun 2014.

Dengan kumpulan virus terbaru termasuk yang berasal dari 48.500 tahun yang lalu, para peneliti mungkin telah menghidupkan kembali virus tertua.

"48.500 tahun adalah rekor dunia," kata Jean-Michel Claverie, salah satu penulis makalah dan seorang profesor genomik dan bioinformatika di Fakultas Kedokteran University of Aix-Marseille.

Dalam makalah mereka, para peneliti menjelaskan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang perlu difokuskan pada virus yang menginfeksi eukariota (organisme dengan sel yang memiliki nukleus dan organel bermembran lainnya). Mereka mencatat bahwa sangat sedikit penelitian yang telah dipublikasikan mengenai hal ini.

Mereka menjelaskan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim cenderung membangkitkan kembali banyak ancaman mikroba, termasuk virus patogen dari masa lampau.

"Sayangnya, ini didokumentasikan dengan baik oleh pandemi baru-baru ini (dan sedang berlangsung), setiap virus baru, bahkan terkait dengan keluarga virus yang diketahui, hampir selalu memerlukan pengembangan tanggapan medis yang sangat spesifik, seperti antivirus atau vaksin baru," kata para penulis.

"Tidak ada yang setara dengan 'antibiotik spektrum luas' terhadap virus, karena kurangnya proses druggable di seluruh keluarga virus yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk merenungkan risiko partikel virus kuno yang tetap menular dan kembali ke sirkulasi dengan mencairnya lapisan permafrost kuno," tambah mereka.



Simak Video "Seputar Temuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT