Ini Dia Prediksi Teknologi Dirgantara Nasional Masa Depan

Ini Dia Prediksi Teknologi Dirgantara Nasional Masa Depan

ADVERTISEMENT

Ini Dia Prediksi Teknologi Dirgantara Nasional Masa Depan

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 23 Nov 2022 21:42 WIB
Ilham Habibie
Foto: Istimewa
Jakarta -

Penurunan penggunaan transportasi udara selama masa pandemi dan emisi karbon dari pesawat menjadi pembahasan penting untuk keberlangsungan industri dirgantara nasional.

Dalam diskusi yang mengusung tema 'Penerapan Teknologi Masa Depan dalam Pengembangan Industri Dirgantara Nasional' yang diselenggarakan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB dan Forum Dialog Nusantara pada Jumat (18/11) lalu, hal-hal penting ini dibahas berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dirgantara di masa depan.

Menurut Ilham Akbar Habibie, yang mewakili industri manufaktur, ada tiga keluarga teknologi yang penting untuk dipelajari. "Pertama terkait material, kita harus membayangkan membuat pesawat dari material-material yang seluruhnya bisa kita olah kembali," kata Ilham Habibie dalam keterangan yang diterima detikINET, Rabu (23/11/2022).

Kedua, lanjut Ilham, perlu dikembangkan teknologi terkait energi terbarukan untuk mengurangi emisi, seperti penggunaan baterai atau biofuel sebagai bahan bakar pesawat.

Poin ketiga adalah digitalisasi dalam simulasi. Adanya AI, menurut Ilham, membuat kita bisa mengerti kelemahan-kelemahan dari suatu desain dan mensimulasikan penggunaannya baik dari segi penumpang maupun pilot.

Ilham HabibieIlham Habibie Foto: Istimewa

"Selain itu, digital machining dalam pembuatan pesawat membuat kompleksitas dan waktu membuat pesawat berkurang sehingga lebih ramah lingkungan," sebutnya.

Electrical propulsion menjadi salah satu bentuk teknologi yang dicoba oleh PTDI untuk mengembangkan produk-produknya dalam menghadapi megatren. Tidak hanya itu, PTDI dituntut memiliki quality cost delivery yang optimal.

"Kami menyadari adanya teknologi 4.0. internet of things, augmented realty, dan yang lain ini menjadi salah satu kunci bagi kami untuk mengintegrasikan engineering dan manufacturing," kata Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Batara Silaban.

"Untuk area engineering, paperless engineering process sudah kita gunakan. Dari sisi manufacturing, kita dalam proses peremajaan mesin-mesin produksinya," sambungnya.

Harapannya, setelah mesin ini siap, PTDI memiliki engineering manufacturing process terintegrasi yang pada akhirnya bisa menghasilkan suatu proses yang efisien sehingga bisa melakukan produktivitas dengan baik.

Meski terlihat menjanjikan, masih ada limitasi dalam mendapatkan seluruh teknologi kunci ini. Salah satu hal yang dilakukan PTDI untuk mengatasinya adalah bekerja sama dengan Korea untuk pesawat tempur.

Adapun riset terkait teknologi kunci penerbangan ini dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka baru saja menyelesaikan pengujian wind tunnel untuk konfigurasi sayap, tail, dan float N219A yang merupakan suatu proyek kolaborasi dengan PTDI.

"Ini perjalanan yang cukup panjang karena salah satu teknologi kunci yang perlu kita kuasai di Indonesia adalah composite material, dan ini sesuatu yang saat ini (membuat) kita harus banyak melakukan penelitian, banyak melakukan pengembangan," kisah Robertus Heru Triharjanto yang mewakili Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN.

Ilham HabibieKepala ORPA BRIN Robertus Heru Triharjanto. Foto: Istimewa

Tahun ini BRIN juga melakukan penelitian dalam pengembangan avionik dengan tujuan agar kita bisa menguasai teknologi auto-pilot bagi pesawat tanpa awak, dan selanjutnya bisa diaplikasikan pada pesawat berawak. Menurutnya, teknologi avionik ini bernilai sangat tinggi pada global supply chain untuk aeronautics dan aerospace.

Dari segi pemerintah sebagai regulator, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara cukup aktif dalam menjalin komunikasi dan berkoordinasi dengan dunia internasional, termasuk ICAO dan Uni Eropa.

"Saat ini juga sedang dilakukan training-training dalam rangka meng-update teknologi yang saat ini berkembang di aviasi. Sementara untuk spesialis teknologi mesin, pemerintah bekerja sama dengan manufaktur-manufaktur dari luar untuk mendapatkan pelatihan dalam melakukan proses validasi dan sertifikasi di Indonesia," jelas DKPPU Kemenhub Capt. Boy Mauludin.

Minimnya perguruan tinggi yang memiliki jurusan Teknik Dirgantara di Indonesia, membuat upaya meningkatkan kebutuhan SDM kedirgantaraan menjadi tantangan tersendir.

Ilham HabibieDekan FTMD ITB Tatacipta Dirgantara. Foto: Istimewa

Dengan demikian, ITB berusaha mempersiapkan SDM yang dapat menyesuaikan kebutuhan industri. Hal ini dilakukan melalui pemberian berbagai proyek desain untuk problem solving, dasar-dasar keilmuan engineering, serta merdeka belajar terpimpin berupa proyek-proyek independen bagi mahasiswa.

Selain itu, FTMD ITB juga melakukan penelitian yang mengarah kepada upaya decarbonization dan digitalization.

"Misalnya decarbonization terkait perancangan pesawat: bagaimana material dan strukturnya semakin ringan menggunakan teknologi terbaru seperti 3D printing, dari yang dulu bentuknya nggak mungkin jadi mungkin, bentuk pesawatnya semakin berkurang hambatannya dengan menggunakan teknologi komputasi yang baik," tutur Dekan FTMD ITB Tatacipta Dirgantara.

"Kita sekarang menggunakan AI dan ML untuk melakukan optimasi bentuk. Jadi digitalisasi itu sudah kita kerjakan di sini. Kita juga mengembangkan bahan bakar alternatif bioavtur, high altitude long endurance menggunakan solar panel, motor listrik. Dari sisi perawatan: digital twin, hingga robot untuk perawatan,," tambahnya.

Seperti yang disampaikan oleh Dekan FTMD ITB, dialog ini diharapkan bisa memberikan wawasan dan hasil yang bermanfaat, juga menarik ketertarikan bagi berbagai pemangku kepentingan agar bisa menjadi bagian dari strategi dan kebijakan besar dalam membangun kedirgantaraan Indonesia.



Simak Video "Spesifikasi Indonesia One, Pesawat Kepresidenan RI yang Mungil "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT