China Hadapi Kondisi Prihatin Krisis Babi

China Hadapi Kondisi Prihatin Krisis Babi

ADVERTISEMENT

China Hadapi Kondisi Prihatin Krisis Babi

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 20 Nov 2022 05:45 WIB
close up of a pigs face on a truck, behind bars
China Hadapi Kondisi Prihatin Krisis Babi. Foto: Getty Images/iStockphoto/pidjoe
Jakarta -

Kelangkaan babi terjadi di China. Negeri Tirai Bambu ini menghadapi krisis babi karena kurangnya produksi dari para peternak.

Untuk mengatasi kondisi memprihatinkan ini, pelaku industri di China akan meningkatkan impor daging babi dalam beberapa bulan mendatang. Kelangkaan babi disebabkan oleh turunnya permintaan daging babi dan biaya pakan yang tinggi dari Juni 2021 hingga Juli tahun ini.

Dikutip dari Reuters, kelangkaan ini menyebabkan peternak mengalami kerugian hingga 600 yuan (sekitar Rp 1,3 juta) per babi. Karenanya, petani menjual ternak dan memusnahkan lebih banyak induk babi dari biasanya atau memperlambat produksi dengan tidak mengawinkan betina untuk mengekang kerugian.

Chief Executive Genesus Inc Kanada Jim Long yang merupakan pemasok babi pembibitan ke China memperkirakan, karena langkah itu kawanan babi menyusut antara 6 juta dan 8 juta ekor.

"Kita semua perlu mengawasi China. Kami mengharapkan adanya peningkatan penjualan karena kekurangan daging babi mereka," ujarnya.

Sementara itu, Kementerian pertanian China mengatakan mereka memiliki 44,6 juta induk babi pada September 2021. Angka ini turun menjadi 41,85 juta pada Maret 2022. Kemudian, meningkat lagi menjadi lebih dari 43 juta pada September 2022.

Kelangkaan babi pada akhirnya membuat harga daging babi melonjak. Pasalnya, daging babi merupakan makanan favorit di China. Di sisi lain, lonjakan harga komoditas tersebut. Biro statistik mencatat pada Oktober 2022, harga daging babi melonjak 51,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, data dari Shanghai JC Intelligence Co Ltd mencatat, harga babi hidup JCI-HOG-LUOHER naik sekitar 78% dari Juni menjadi 28,50 yuan per kg pada 19 Oktober. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2021.

Menurut para analis industri, petani, dan pemasok pakan dan genetika, harga daging babi diproyeksi masih akan tinggi pada 2023.

Pemerintah menyayangkan para petani yang menahan babi tidak segera disembelih karena mengincar harga lebih tinggi dengan menggemukkannya. Sedangkan para analis dan ahli mengatakan, telah terjadi pengurangan pasokan babi yang besar sejak musim dingin lalu.

Sementara itu, Kementerian Pertanian dan Pedesaan China berulang kali meyakinkan bahwa kapasitas pembibitan sudah mencukupi.

"Penghapusan kapasitas produksi benih mungkin lebih besar dari yang dibayangkan pasar saat ini," kata Guan Yilin, analis Cofco Futures.



Simak Video "Jokowi Bandingkan Harga BBM hingga Gas dengan Negara lain"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT