Ilmuwan Duga Cuma Bumi yang Punya Penghuni dan Alien Tidak Ada

Ilmuwan Duga Cuma Bumi yang Punya Penghuni dan Alien Tidak Ada

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Duga Cuma Bumi yang Punya Penghuni dan Alien Tidak Ada

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 16 Nov 2022 08:45 WIB
Ilustrasi exoplanet TOI-1231 b
Ilmuwan Duga Cuma Bumi yang Punya Penghuni dan Alien Tidak Ada. Foto: NASA
Jakarta -

Kita mungkin sendirian di alam semesta ini, teori terbaru NASA menjelaskan alasannya. Mereka menduga, alien mungkin perlahan-lahan memusnahkan diri karena bencana iklim di planet asal mereka.

Dalam makalah yang diterbitkan di publikasi pra-cetak ArXiv, sekelompok ilmuwan NASA menganalisis teori "Great Filter" atau Penyaring Hebat, yang menyatakan bahwa peradaban alien kuno mungkin telah musnah sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melakukan kontak dengan manusia Bumi.

Studi baru ini berfungsi sebagai peringatan bagi peradaban kita dan melukiskan gambaran tentang alam semesta yang telah menjadi rumah bagi banyak peradaban, beberapa di antaranya, jika ada, bertahan cukup lama untuk menjadi spesies antarplanet.

Teori Great Filter

Teori Great Filter menunjukkan perspektif tentang bagaimana seluruh peradaban mungkin secara perlahan menciptakan kondisi yang mengarah pada kehancuran mereka sendiri.

Dikutip dari Interesting Engineering, teori ini juga merupakan jawaban yang mungkin untuk Fermi Paradox, yang menyatakan bahwa kehidupan alien yang cerdas harus berlimpah dan dapat dideteksi, mengingat fakta bahwa ada miliaran planet yang terletak di dalam zona layak huni Tata Surya mereka maupun kita.

Makalah tersebut menyatakan bahwa, bukti kehidupan seharusnya ada dalam kelimpahan di galaksi kita. Namun dalam praktiknya, kita tidak menghasilkan penegasan yang jelas tentang apa pun di luar planet kita sendiri.

"Kita mendalilkan bahwa bencana eksistensial mungkin menunggu saat masyarakat kita maju secara eksponensial menuju eksplorasi ruang angkasa, bertindak sebagai Penyaring Hebat: sebuah fenomena yang menghapus peradaban sebelum mereka dapat bertemu satu sama lain, yang mungkin menjelaskan keheningan kosmik," tulis mereka.

Sedangkan menurut studi baru yang belum ditinjau rekan sejawat ini, menunjukkan bahwa umat manusia harus meningkatkan tingkat kesadaran diri untuk mengatasi krisis iklim.

"Kunci umat manusia yang berhasil melintasi filter universal semacam itu adalah mengidentifikasi atribut-atribut itu dalam diri kita sendiri dan menetralisirnya terlebih dahulu," jelas penulis studi tersebut.

Pada dasarnya, penulis makalah menduga bahwa setiap ancaman eksistensial yang kita hadapi di Bumi ini, termasuk perubahan iklim, perang nuklir, pandemi, dan faktor lainnya, kemungkinan besar telah dihadapi berkali-kali oleh peradaban lain selama jutaan tahun di seluruh alam semesta.

Teori Great Filter pertama kali diusulkan pada tahun 1998 oleh Robin Hanson, seorang ekonom di University of George Mason. Dalam sebuah esai pada saat itu, dia menulis bahwa "fakta bahwa alam semesta kita pada dasarnya tampak mati menunjukkan bahwa sangat, sangat sulit bagi kehidupan yang maju, eksplosif, dan bertahan lama untuk muncul."

Hanson memperkirakan bahwa banyak peradaban alien mungkin telah berevolusi ke titik sebelum mereka memiliki teknologi yang diperlukan untuk memperluas dunia, hanya untuk kemudian musnah.

Dalam makalah baru mereka, para ilmuwan NASA menyatakan bahwa peradaban manusia harus berevolusi agar tidak menyerah pada "Penyaring Besar". Sejarah telah menunjukkan bahwa persaingan intraspesies dan yang lebih penting, kolaborasi, telah membawa kita menuju puncak penemuan tertinggi.

Meskipun teori Great Filter adalah eksperimen pikiran yang penting dalam menghadapi tantangan yang kita hadapi di Bumi ini, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa hal itu tidak memperhitungkan kapasitas terbatas kita saat ini terkait pengetahuan tentang kosmos.

"Teori Penyaring Besar bergantung pada asumsi hasil pengamatan bahwa tidak ada orang di luar sana. Tapi kesimpulan itu terlalu dini. Kita baru saja mulai mencari," kata Seth Shostak, astronom dari SETI Institute.

Namun, yang lebih penting dari semua itu, makalah baru ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi umat manusia untuk menjaga Bumi dari kehancuran, dan menyoroti fakta bahwa kolaborasi manusia dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan peluang kita untuk bertahan hidup melawan banyak ancaman eksistensial yang dapat dihadapi spesies kita di masa yang akan datang.



Simak Video "Astrobiolog Sebut Gas Tertawa Bisa Jadi Tanda Kehidupan di Exoplanet"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT