Tidur Ratusan Tahun, Gunung Berapi Indonesia Bisa Ngamuk Kapan Saja

Tidur Ratusan Tahun, Gunung Berapi Indonesia Bisa Ngamuk Kapan Saja

ADVERTISEMENT

Tidur Ratusan Tahun, Gunung Berapi Indonesia Bisa Ngamuk Kapan Saja

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 03 Nov 2022 19:14 WIB
Campers are seen from the opening of a tent as they watch Mount Sinabung erupting in Karo, North Sumatra, Indonesia, Thursday, March 11, 2021. The 2,600-meter (8,530-feet) volcano unleashed an avalanche of searing gas clouds flowing down its slopes during eruption on Thursday. No casualties were reported. (AP Photo/Binsar Bakkara)
Gunung Sinabung ketika erupsi. Foto: AP/Binsar Bakkara
Jakarta -

Gunung Edgecumbe di Alaska, adalah sebuah gunung berapi kuno dan tidak aktif. Baru-baru ini, ia mengejutkan dengan bangun lagi setelah ratusan tahun tertidur. Indonesia pun punya gunung berapi semacam itu.

Dijelaskan pakar vulkanologi ITB Mirzam Abdurrachman, ada 3 tipe gunung api di Indonesia, yaitu Tipe A, Tipe B, dan Tipe C.

  • Tipe A: ada 77 gunung api dengan catatan sejarah letusan sejak tahun 1600
  • Tipe B: ada 29 dengan catatan letusan sebelum tahun 1600
  • Tipe C: ada 21 gunung api dengan tidak ada catatan sejarah letusan sejak 1600 tetapi masih memperlihatkan jejak aktivitas vulkanik seperti sulfatara dan fumarola.

"Fenomena gunung api tidur yang bangkit adalah berubahnya dari tipe gunung api tipe B ke A, maka dengan melihat data tersebut setidaknya ada 29 gunung api tidur di Indonesia," ujarnya kepada detikINET, Rabu (2/11/2022).

Apakah semua gunung api tidur bisa bangkit kembali? Bisa. Mirzam memberi contoh Gunung Edgecumb di Alaska meletus di tahun ini. Sedangkan di Indonesia ada Sinabung yang meletus di tahun 2010 setelah tertidur selama 400 tahun lamanya.

Dijelaskan olehnya, gunung berapi yang tertidur bisa aktif lagi sewaktu-waktu selama produksi magma (larutan silikat pijar) terus diproduksi di dalam dapur magma. Ada tiga tempat utama pembentukan gunung berapi di dunia, yaitu berkaitan dengan pelelehan lempeng di zona subduksi, pematang tengah samudra, dan hot spot.

"Maka selama itu juga gunung api berpotensi meletus, meskipun 'sesaat' puluhan hingga ratusan tahun tertidur sejenak," jelasnya.

Gunung api tidur, sebutnya, bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, pengisian magma memerlukan waktu lama karena dapur magma yang kosong akibat erupsi sebelumnya.

Kedua, erupsi bisa berpindah tempat mencari tempat terlemah dan mudah dilewati magma ke permukaan yang suatu saat bisa kembali pada jalur awal.

Lama waktu tertidur pun akan mempengaruhi letusan berikutnya. Kenapa?

  1. Lama atau sebentar tidur suatu gunung api akan berpengaruh terhadap akumulasi volume. Begitu juga akumulasi energi ini akan berdampak pada banyaknya volume yang akan dikeluarkan atau energi letusan
  2. Lama dan sebentar tidur suatu gunung api akan mengubah komposisi magma yang tersisa, ini seperti membayangkan cairan yang disimpan cukup lama akan menjadi basi karena berubah komposisi fisika kimianya.

"Dalam hal ini magma akan berubah komposisinya menjadi lebih asam atau sangat berbeda dari magma aslinya, akibatnya jika ada magma baru yang datang maka akan terjadi ketidaksetimbangan antara dua jenis magma. Semakin berbeda, maka akan memicu letusan lebih cepat dan sebaliknya semakin banyak magma lama tersisa, semakin lama atau panjang letusan untuk membersihkan sisa magma tersebut," urainya.



Simak Video "Status Waspada, Aktivitas Kegempaan Gunung Api Dieng Masih Signifikan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT