Kisah Peneliti Hewan Paling Berbahaya di Dunia Menurut Bill Gates

Kisah Peneliti Hewan Paling Berbahaya di Dunia Menurut Bill Gates

ADVERTISEMENT

Kisah Peneliti Hewan Paling Berbahaya di Dunia Menurut Bill Gates

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 23 Agu 2022 16:45 WIB
Adi Utarini
Kisah Peneliti UGM Tangkal Demam Berdarah, Bikin Kagum Melinda Gates. Foto: Instagram @melindafrenchgates
Jakarta -

Bill Gates dalam tulisan terbarunya mengatakan, hewan paling berbahaya di dunia adalah nyamuk, karena bisa membawa penyakit. Mantan istri Bill Gates, Melinda Gates sampai mengagumi ilmuwan Indonesia yang meneliti nyamuk.

Penelitian global untuk menangkal demam berdarah yang didanai oleh yayasan Bill Gates salah satunya digelar di Yogyakarta. Nah pada tahun 2021, salah satu penelitinya yang berasal dari UGM, Prof. dr. Adi Utarini, masuk daftar 100 orang paling berpengaruh dunia 2021 versi TIME.

Kala itu, mantan istri Bill Gates, Melinda Gates, ikut mengagumi sosok sang profesor. Kekaguman Melinda disampaikannya lewat sebuah postingan di akun Instagram @melindafrenchgates. Dalam postingan tersebut, Melinda memajang foto Adi Utarini.

Dia mengatakan sebelumnya tidak menyangka akan begitu tertarik mempelajari gigitan nyamuk. Sampai akhirnya bertemu Adi Utarini, seketika Melinda berubah pikiran dan menjadi sangat tertarik mengetahui banyak hal tentang nyamuk.

"Dalam sebuah eksperimen yang menjadi terobosan, ia membuktikan bahwa menginokulasi nyamuk dengan bakteri yang disebut Wolbachia dapat membantu menurunkan tingkat demam berdarah yang mematikan dengan mencegah mereka menularkan penyakit," kisahnya seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya.

"Saya bangga menulis tentang karya Dr. Utarini untuk #Time100 tahun ini. Saya harap Anda mengenalnya sebagai inspirasi seperti yang saya lakukan," puji Melinda.

Penelitian nyamuk bawa Adi Utarini mendunia

Dalam wawancara dengan detikNews, Adi Utarini menjelaskan penelitiannya tentang nyamuk. Mereka melakukan inokulasi nyamuk dengan Wolbachia. Bakteri ini tidak berbahaya bagi manusia, tapi mampu membuat nyamuk tidak menularkan demam berdarah dari gigitannya.

Teknologi Wolbachia ini telah melalui uji efikasi dan selesai pada Agustus 2020 lalu. Uut, demikian dia akrab disapa, bersama tim kemudian mengimplementasikan teknologi ini di Kabupaten Sleman melalui program Si Wolly Nyaman.

"Setelah hasil uji efikasi Wolbachia selesai di Agustus 2020, saat ini kami fokus dalam implementasi teknologi Wolbachia di Kabupaten Sleman melalui program Si Wolly Nyaman, Wolbachia-Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman. Dalam program ini kami bekerja sama dengan Pemkab Sleman melalui Dinas Kesehatan Sleman," jelas Uut kala itu.

Studi ini menjadi terobosan bagi organisasi yang dia bantu. Uut menjadi yang pertama membuktikan teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan masyarakat. Bersama tim World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Uut telah berhasil menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta sebesar 77%.

"Wolbachia terbukti efektif menurunkan kasus DBD sebesar 77 persen. Serta menurunkan kasus DBD yang dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen," ungkapnya.

Sebelumnya, Adi Utarini juga sempat didapuk Komunitas jurnal penelitian Nature Research sebagai 10 orang yang dianggap paling berpengaruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan selama 2020.



Simak Video "Bill Gates Dukung Riset Atasi Demam Berdarah di Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT