Kenaikan Suhu Jakarta 1,4 Kali Lebih Kuat dari Rata-rata Global

ADVERTISEMENT

Eureka!

Kenaikan Suhu Jakarta 1,4 Kali Lebih Kuat dari Rata-rata Global

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 10 Agu 2022 08:45 WIB
Gelombang Panas Bukan Penyebab Terik di Indonesia, Ini Kata BMKG
Suhu Jakarta 1,4 Derajat Lebih Kuat dari Rata-rata Global. Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Secara umum, rata-rata suhu di Indonesia saat ini lebih rendah dari rata-rata global. Namun jika dilihat secara spesifik per wilayah seperti Jakarta, angkanya lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

"Kalau kita lihat per lokasi seperti di Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, kota-kota yang padat penduduk atau yang kuat aktivitas urbanisasi maupun urban developmentnya, suhunya sudah melampaui global," kata Siswanto M.Sc, Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrem Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG), dalam live Eureka!: Bumi Akhir Zaman, Senin (8/8/2022).

"Jakarta suhunya sudah lebih cepat dan lebih kuat 1,4 derajat peningkatannya dibandingkan suhu global," Siswanto memberi contoh.

Disebutkan Siswanto, sebelum tahun 1950, suhu Indonesia, terutama Jakarta masih di bawah rata-rata global maupun rata-rata Indonesia. Namun sejak 1962 hingga sekarang, suhu udara di Jakarta makin meningkat secara signifikan bahkan melampaui rata-rata Indonesia maupun global.

"Itu berkaitan dengan pengembangan perkotaan, industri, transportasi, pengembangan dan pembukaan wilayah, perubahan landscape yang tadinya banyak pohon menjadi hunian, bangunan, dan lain-lain. Semuanya berdampak pada peningkatan suhu permukaan," paparnya.

Tak hanya Jakarta yang menjadi wilayah terpanas, data BMKG menyebutkan hampir sebagian besar Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan juga mengalami peningkatan suhu udara.

Peningkatan suhu salah satu dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global. Selain itu, Siswanto juga menyebut perubahan iklim juga meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir dan kekeringan yang intensif.

"Banjir, longsor, kekeringan, puting beliung yang tidak biasa terjadi di suatu lokasi menjadi biasa, siklon tropis yang tidak pernah terjadi di wilayah Indonesia atau jarang terjadi, sekarang sering muncul," sebutnya.

[Gambas:Youtube]



(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT