1 Agustus 1774, Penemuan Senyawa Oksigen

ADVERTISEMENT

1 Agustus 1774, Penemuan Senyawa Oksigen

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 01 Agu 2022 21:00 WIB
ilustrasi masker oksigen
Foto: ThinkStock
Jakarta -

Tepat hari ini 1 Agustus tahun 1774, seorang ilmuwan bernama Joseph Priestley berhasil menemukan unsur oksigen. Saat itu Priestley mampu menjawab mengapa dan bagaimana segala sesuatu dapat terbakar.

Penemuan oksigen saat itu berhasil mengubah pandangan manusia dalam melihat lingkungan. Ahli menyadari bahwa ada lebih dari satu komponen pada udara.

Sifat oksigen dan nitrogen sebagai komponen udara mengarah pada pengembangan teori flogiston pada proses pembakaran, yang sering terpikir oleh para ahli kimia selama satu abad.

Penemuan oksigen

Dirngkum dari berbagai sumber, pada Agustus 1774, sewaktu melakukan percobaan di bagian selatan Inggris, Priestley berhasil memisahkan suatu gas yang membuat api lilin bersinar lebih terang, yang dihasilkan dari sinar Matahari yang difokuskan menggunakan lensa pembakar pada suatu sampel raksa (II) oksida.

Lalu, ia menaruh 60 mililiter gas itu dan seekor tikus dalam sebuah wadah kaca. Tikus tersebut mampu bertahan hidup dua kali lebih lama daripada yang dimasukkan ke dalam wadah berisi udara biasa.

Bahkan, Priestley sendiri menghirup gas itu, dan ia mengatakan bahwa ia merasa tubuhnya lebih segar selama beberapa saat setelahnya. Priestley sebenarnya menemukan gas oksigen.

Tapi, ia menyebut gas itu sebagai "udara tak berflogiston", karena mengira bahwa ia telah menemukan udara biasa yang tidak mengandung flogiston. Ternyata kesimpulan Priestley tersebut salah.

Tapi, banyak orang masih menganggap temuannya ini sebagai puncak prestasinya. Bulan Oktober pada tahun yang sama, ia menemani rekannya, Lord Shelburne, dalam perjalanan ke Belgia, Belanda, Jerman, dan Prancis.

Ketika ia berada di Paris, ia memberi tahu ahli kimia Prancis Antoine Lavoisier bagaimana dia mendapatkan "udara" baru. Pertemuan antara kedua ilmuwan ini sangat penting bagi para ilmuwan kimia di masa depan.

Lavoisier segera mengulangi eksperimen Priestley dan, antara tahun 1775 dan 1780, melakukan penyelidikan intensif yang darinya ia memperoleh sifat dasar "udara" tersebut, mengenalinya sebagai udara "aktif" di atmosfer, menafsirkan perannya dalam pembakaran dan respirasi, dan memberi nama pada "udara" baru tersebut, yaitu oksigen (O2).

Setelah kembali ke Britania Raya pada Januari 1775, ia melanjutkan percobaannya dan menemukan "udara asam vitriolat" (belerang dioksida, SO2).

Pada bulan Maret ia menulis pada sejumlah tokoh terkait "udara" baru yang telah ia temukan pada bulan Agustus. Salah satu dari surat tersebut dibacakan pada Royal Society, dan sebuah makalah yang menguraikan penemuan tersebut, berjudul "An Account of further Discoveries in Air", diterbitkan dalam jurnal Royal Society, Philosophical Transactions.

Priestley menyusun makalahnya mengenai oksigen dan penemuannya yang lain dalam Experiments and Observations on Air volume kedua, yang diterbitkan tahun 1776.

Makalahnya menceritakan penemuan ini secara kronologis, menghubungkan penundaan yang lama antara eksperimen dan kebingungan pada dirinya saat permulaan. Karenanya, sulit untuk menentukan kapan tepatnya Priestley "menemukan" oksigen.

Penentuan tanggal ini sangatlah penting lantaran baik Lavoisier maupun ahli farmasi Swedia Carl Wilhelm Scheele memiliki klaim yang kuat pula terhadap penemuan oksigen, Scheele menjadi yang pertama mengisolasi gas ini (walaupun ia mempublikasikan penemuannya tersebut setelah Priestley) dan Lavoisier menjadi yang pertama menjelaskan gas ini sebagai "udara itu sendiri tanpa ada gangguan" yang murni (yaitu, yang pertama menjelaskan oksigen tanpa teori flogiston).

Dalam makalahnya "Observations on Respiration and the Use of the Blood", Priestley menjadi yang pertama menyarankan suatu hubungan antara darah dan udara, walau ia melakukannya menggunakan teori flogiston.

Dalam gaya khas Priestley, ia menyampaikan pengantar makalahnya tersebut dengan sejarah mengenai studi respirasi. Satu tahun kemudian, benar-benar dipengaruhi oleh Priestley, Lavoisier turut mendiskusikan topik respirasi pada Académie des sciences.

Karya Lavoisier tersebut menjadi awal bagi penemuan yang panjang yang menghasilkan makalah-makalah mengenai respirasi oksigen dan berpuncak pada digantikannya teori flogiston dan didirikannya kimia modern.

Riwayat singkat Priestley

Priestley lahir di Yorkshire Inggris dari keluarga sederhana. Ia adalah putra sulung dari seorang pembuat kain wol. Ibunya meninggal setelah melahirkan enam anak dalam enam tahun.

Sejak kecil, Priestley gemar belajar. Selain menempuh pendidikan formal di sekolah lokal, ia juga belajar matematika dan filsafat, dan bermacam bahasa termasuk Latin, Yunani, Prancis, Italia, Jerman dan beberapa bahasa Timur Tengah.

Kemampuan Priestley yang luar biasa sebetulnya mampu mengantarkannya ke universitas terkemuka seperti Oxford dan Cambridge. Namun sebagai seorang biasa, Priestley tidak bisa mendaftar universitas tersebut, sehingga ia masuk Daventry Academy.

Semasa hidupnya, Priestley dikenal sebagai seorang yang vokal karena keberaniannya mendukung revolusi Amerika dan Prancis. Karena sikapnya ini, Priestley terancam bahaya. Ia lalu meninggalkan Inggris pada 1794. Ia melanjutkan penelitiannya di Amerika sampai akhir hayatnya.



Simak Video "Kisah Ilmuwan yang Celaka Karena Temuannya Sendiri "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT