Inti Bumi Berubah, Manusia Bisa Apa?

ADVERTISEMENT

Inti Bumi Berubah, Manusia Bisa Apa?

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 03 Jul 2022 22:20 WIB
inti Bumi
Inti Bumi Berubah, Ada Apa? Foto: Express.co.uk
Jakarta -

Sebagian besar pengetahuan kita tentang apa yang ada di pusat planet kita, berasal dari studi gelombang seismik yang muncul dari gempa Bumi. Analisis yang cermat terhadap gelombang ini dapat mengungkapkan komposisi batuan dan logam di bawah permukaan Bumi.

Sebuah studi baru tentang gelombang seismik yang merambat dari dua gempa Bumi yang berbeda, di lokasi yang sama tetapi dipisahkan oleh jarak 20 tahun, telah mengungkapkan perubahan yang terjadi di inti luar Bumi, lapisan besi cair dan nikel yang berputar di antara mantel permukaan dan inti dalam (lapisan terdalam) Bumi.

Inti luar dan besi yang terkandung di dalamnya secara langsung mempengaruhi medan magnet planet kita, yang pada gilirannya memberikan perlindungan dari luar angkasa dan radiasi Matahari. Inti Bumi membuat kehidupan di planet ini menjadi sesuatu yang mungkin.

Karenanya, jika inti Bumi berubah maka hal terbaik yang bisa dilakukan manusia adalah segera belajar tentang inti luar Bumi dan evolusinya dari waktu ke waktu sangat penting. Data yang direkam dari empat pemantau gelombang seismik di kedua gempa Bumi menunjukkan bahwa gelombang dari peristiwa berikutnya bergerak sekitar satu detik lebih cepat ketika melewati wilayah inti luar yang sama.

"Sesuatu telah berubah di sepanjang jalur gelombang itu, sehingga bisa melaju lebih cepat sekarang. Materi yang ada di sana 20 tahun yang lalu sudah tidak ada lagi," kata ilmuwan geologi Ying Zhou dari Virginia Tech, dikutip dari IFL Science, Minggu (3/7/2022).

"Ini adalah material baru, dan lebih ringan. Elemen-elemen ringan ini akan bergerak ke atas dan mengubah kerapatan di wilayah tempat mereka berada," sambungnya.

Jenis gelombang yang dianalisis di sini adalah gelombang SKS: mereka melewati mantel sebagai shear waves/gelombang geser (S), kemudian ke inti luar sebagai compressional waves/gelombang kompresi (K), lalu keluar sisi lain dan kembali melalui mantel lagi karena lebih banyak second shear waves/gelombang geser kedua (second S). Waktu perjalanan gelombang ini bisa mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya.

Adapun dua gempa Bumi, keduanya berada di dekat Kepulauan Kermadec di Samudra Pasifik Selatan. Yang pertama terjadi pada Mei 1997, dan yang kedua pada September 2018. Ini memberikan kesempatan unik kepada para peneliti untuk melihat bagaimana inti Bumi mungkin telah berubah dari waktu ke waktu.

Konveksi terjadi di besi cair inti luar Bumi, saat mengkristal ke inti dalam menciptakan arus listrik yang mengalir, mengontrol medan magnet di sekitar kita. Namun, hubungan antara inti luar dan medan magnet Bumi tidak sepenuhnya dipahami - banyak yang didasarkan pada pemodelan hipotetis.

"Jika Anda melihat kutub geomagnet utara, saat ini bergerak dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per tahun. Itu bergerak menjauh dari Kanada dan menuju Siberia. Medan magnet tidak sama setiap hari, melainkan berubah," ujarnya.

"Karena berubah, kami juga berspekulasi bahwa konveksi di inti luar berubah seiring waktu, tetapi tidak ada bukti langsung. Kami belum pernah melihatnya."

Studi baru ini, dan kemungkinan studi masa depan seperti itu - dapat memberikan wawasan yang berguna tentang bagaimana inti luar dan konveksinya berubah. Meskipun perubahan yang dicatat di sini tidak besar, semakin banyak yang kita ketahui, semakin baik.

Dalam hal ini, Zhou menyarankan bahwa unsur-unsur yang lebih ringan seperti hidrogen, karbon, dan oksigen telah dilepaskan di inti luar sejak tahun 1997. Ini sesuai dengan pengurangan densitas sekitar 2-3 persen dan kecepatan aliran konveksi sekitar 40 kilometer per jam.

Saat ini terdapat 152 stasiun Jaringan Seismografi Global di seluruh dunia, yang memantau gelombang seismik secara real-time. Meskipun kita tidak dapat mengontrol lokasi atau waktu gempa, kita dapat memastikan bahwa sebanyak mungkin data dicatat tentang gempa tersebut.

"Kita bisa melihatnya sekarang. Jika kita bisa melihatnya dari gelombang seismik, di masa depan, kita bisa mendirikan stasiun seismik dan memantau aliran itu," tutupnya.



Simak Video "Fakta Menarik Fenomena Planet Sejajar Juni 2022 "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT