Fenomena Horor Mayat Bermunculan di Everest

Fenomena Horor Mayat Bermunculan di Everest

ADVERTISEMENT

Fenomena Horor Mayat Bermunculan di Everest

Tim - detikInet
Minggu, 03 Jul 2022 05:45 WIB
Pemanasan global: Gletser Gunung Everest mencair, Nepal hendak relokasi kamp pendakian
Gunung Everest. Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Selain menyandang status sebagai gunung tertinggi di dunia, Everest juga bisa dibilang merupakan 'makam paling tinggi di seantero Bumi'. Ya, diestimasi antara 200 sampai 300 pendaki telah mati di sana sejak percobaan penaklukan gunung tersebut dimulai, dengan banyak mayat itu masih terkubur di bawah es.

Menariknya, satu fenomena alam berhasil membuat jasad-jasad tersebut muncul ke permukaan. Adalah mencairnya lapisan es di Everest dengan cepat sehingga mayat-mayat yang sebelumnya tersembunyi itu bisa terlihat.

"Karena pemanasan global, lapisan es mencair dengan cepat dan mayat-mayat yang sebelumnya terkubur selama bertahun-tahun kini mulai terlihat," ujar Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Nepal Mountaineering Association (NMA) beberapa waktu yang lalu.

Sejumlah studi memang sudah menunjukkan gletser di Everest, atau di hampir seluruh pegunungan Himalaya, tengah mencair dan menipis. Salah satunya studi pada 2015 yang menunjukkan kolam di Khumbu Glacier, pendaki harus melewatinya untuk sampai ke puncak, melebar karena percepatan melelehnya es.

Meluasnya Khumbu Glacier juga menyebabkan munculnya mayat-mayat pendaki. Hal tersebut diakui oleh Tshering Pandey Bhote, Vice President Nepal National Mountain Guides Association. Lokasi itu sendiri disebut-sebut sebagai tempat dengan tingkat kemunculan mayat tertinggi.

"Tapi kebanyakan pendaki sudah menyiapkan mentalnya untuk melihat pemandangan seperti itu ketika melintas," kata Tshering menambahkan, seperti dikutip detikINET dari BBC, Minggu (2/7/2022).

Lalu, pada 2016, tentara Nepal harus mengeringkan Danau Imja di dekat Everest. Hal ini lantaran kapasitas airnya yang bertambah dari lelehan gletser sudah mencapai level bahaya.

Kemudian, tahun lalu, sebuah tim peneliti menggali Khumbu Glacier dan menemukan esnya menjadi lebih hangat dari perkiraan. Es terdingin suhunya -3,3 derajat Celsius, atau menjadi lebih hangat 2 derajat Celsius dari rataan suhu tahunannya.

Mengevakuasi mayat dari Everest membutuhkan biaya tinggi. Sejumlah ahli menyebut biaya untuk menurunkan jasad-jasad itu berada di kisaran USD 40.000 hingga USD 80.000.

Sekadar info, biaya yang harus dihabiskan untuk mendaki Everest bagi satu orang berkisar dari USD 30.000 hingga USD 130.000. Jadi, ada kemungkinan, biaya pengangkutan mayatnya lebih mahal dari ongkos mendaki. Selain itu, sangat tidak mudah untuk mengangkut mayat-mayat itu ke bawah.

"Salah satu evakuasi dengan tantangan terbesar adalah ketika melakukannya dari ketinggian 8.700 meter, dekat puncaknya. Jasadnya benar-benar beku dan bisa seberat 150 kilogram, dan itu harus dievakuasi dari tempat yang sulit di ketinggian tersebut" ujar Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.

Selain mahal dan sulit, urusan yang menyangkut mayat di Everest sejatinya sangat personal. "Kebanyakan pendaki lebih suka mayatnya ditinggal begitu saja di gunung jika mereka mati," ucap Alan Arnett, penulis yang fokus pada kegiatan pendakian.

"Jadi jika mayatnya dipindahkan maka perbuatan itu akan dianggap tidak menghargainya, kecuali memang harus dipindahkan dari rute pendakian atau permintaan dari keluarga," tuturnya.

Saksikan juga Sosok minggu ini: Resa Boenard si "princess Bantar Gebang"

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Ekspresi Tak Kuasa Pengunjung Sidang Lihat Foto Jasad Yosua Usai Ditembak"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT