Bencana Kekeringan di Arab Jadi Jalan Islam Berkembang Pesat

Bencana Kekeringan di Arab Jadi Jalan Islam Berkembang Pesat

Tim - detikInet
Minggu, 19 Jun 2022 16:15 WIB
Gurun Arab
Kekeringan di Arab Bantu Islam Berkembang Pesat. Foto: IFL Science
Jakarta -

Arab mengalami kekeringan paling intens selama ribuan tahun di awal abad keenam hingga mengacaukan Kerajaan Himyarite yang saat itu berkuasa. Namun situasi ini memberikan kesempatan bagi Islam untuk berkembang pesat.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan, kekeringan hebat di tanah kelahiran Islam mungkin memainkan peran besar, berkontribusi pada destabilisasi yang berarti ide-ide baru memiliki peluang untuk berkembang.

Seratus tahun setelah kematian Yesus, jumlah pengikut Kekristenan masih sedikit. Sebaliknya, butuh waktu kurang dari 50 tahun sejak munculnya Islam untuk menjadi agama dominan di sebagian besar dunia.

Sebuah makalah yang dipublikasikan di Science, berpendapat ini adalah produk dari lingkungan yang tidak stabil di Arab selatan, yang berkontribusi pada kondisi iklim.

"Apakah kondisi-kondisi tersebut bersimpangan dengan fenomena meteorologi atau intervensi ilahi, hal ini berada di luar jangkauan penulis," tulis Stephen Luntz yang memiliki latar English Literature and History and Philosophy of Science dan Graduate Diploma di Science Communication, dikutip dari IFL Science, Minggu (19/8/2022).

Pada abad ketiga hingga keenam, Himyar mendominasi wilayah yang kini disebut Yaman. Bendungan dan lereng bukit bertingkat menandai sistem irigasi jauh berkembang di depan zamannya, mengubah wilayah semi-gurun itu menjadi daerah penghasil makanan yang kaya dan memperluas pengaruhnya di seluruh Arab.

Gurun ArabFoto: OpenStreetMap Contributors

Pada abad keenam, serangkaian krisis melemahkan Kerajaan Himyarite sampai-sampai ditaklukkan oleh Aksum (sekarang Etiopia), meskipun Laut Merah terbentang di antaranya. Destabilisasi bergejolak di seluruh Arab. Masalah Himyarite kurang dipahami oleh sejarawan.

Seorang profesor bernama Dominik Fleitmann mencoba mengemukakan alasannya. Menurutnya, di masa itu tingkat pertumbuhan stalagmit bervariasi dengan curah hujan di atas gua, karena setiap tetes yang mencapai atap gua membawa lebih banyak kalsit terlarut untuk ditambahkan ke dasar gua saat mendarat. Rasio isotop oksigen dalam batuan, memberikan informasi lebih lanjut tentang kondisi iklim pada saat material diletakkan.

"Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit bahwa pasti ada periode yang sangat kering yang berlangsung beberapa dekade," kata Fleitmann dalam sebuah pernyataan.

Gurun ArabStalagmit dari Gua Hoti mengungkapkan kekeringan abad keenam di Arab yang paling intens dalam 2.650 tahun. Foto: Timon Kipfer/Basel University

Pemeriksaan lebih dekat kemudian mengkonfirmasi terjadinya kekeringan paling intens dalam 2.650 tahun pertumbuhan stalagmit. Di sisi lain, penanggalan deposit stalagmit terlalu tidak tepat untuk menentukan tanggal pasti dari kekeringan ekstrem ini, tetapi proporsi uranium yang membusuk dari periode kering menempatkannya pada awal abad keenam.

Fleitmann mencari sumber-sumber sejarah dan proksi iklim terdekat untuk indikasi lain dari iklim Arab pada saat itu. Di antara sumber yang Fleitmann gunakan adalah data tentang ketinggian air Laut Mati dari waktu ke waktu, dan deposisi debu di Danau Neor, Iran.

Semuanya menunjuk pada kekeringan sekitar tahun 520 M yang melanda Timur Tengah. Pada tahun 520 M, mata air Siloam di Yerusalem dilaporkan telah mengering. Di Turki, sementara itu, hujan meningkat saat jalur badai Mediterania timur bergeser ke utara.

"Air benar-benar sumber daya yang paling penting. Jelas bahwa penurunan curah hujan dan terutama beberapa tahun kekeringan ekstrem dapat mengacaukan kerajaan semi-gurun yang rentan," kata Fleitmann.

Fleitmann percaya, sistem irigasi Kerajaan Himyarite mungkin sangat rentan. Diperlukan puluhan ribu pekerja untuk melakukan pemeliharaan berkelanjutan yang dibutuhkan sistem tersebut, sehingga apa pun yang mengganggu kesehatan atau ketersediaan air dapat memicu kerugian yang merusak dalam produksi pangan.

Pada saat yang sama, terjadi perang antara Kekaisaran Bizantium dan Sasania, sehingga wilayah perdagangan terganggu. Kerajaan itu jatuh pada 525 M, dan Arab menderita akibat perang dan kemiskinan selama satu abad sesudahnya.

"Penduduk mengalami kesulitan besar akibat kelaparan dan perang. Ini berarti Islam bertemu dengan lahan subur, orang-orang mencari harapan baru, sesuatu yang bisa menyatukan orang kembali sebagai masyarakat. Dan Islam yang menjadi agama baru saat itu menawarkan hal ini," tutup Fleitmann.



Simak Video "Melihat Isi Situs Arkeologi di Guatemala"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)