Ilmuwan Mau Buka Lahan Perkebunan di Bulan

Ilmuwan Mau Buka Lahan Perkebunan di Bulan

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 14 Mei 2022 17:37 WIB
Jakarta -

Mimpi untuk menanam tanaman di Bulan selangkah lagi menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya, ilmuwan berhasil menanam tanaman di tanah Bulan yang dibawa pulang oleh astronaut Apollo.

Ilmuwan menanamkan bibit thale cress di tanah Bulan atau regolith yang dibawa pulang oleh tiga misi Apollo. Thale cress, atau Arabidopsis thaliana, adalah tanaman berbunga kecil yang masih berhubungan dengan brokoli, kembang kol, dan kale.

Meski bisa bertahan hidup di tanah Bulan, tanaman ini tidak bisa tumbuh dengan baik. Cress yang ditanam di tanah Bulan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan cress yang ditanam di abu vulkanik. Selain itu, tanaman ini juga menumbuhkan akar kerdil dan menunjukkan tanda stres.

"Kami menemukan bahwa tanaman bisa tumbuh di regolith Bulan, namun mereka merespons seolah-olah mereka tumbuh dalam situasi yang penuh tekanan," kata ahli biologi molekuler dari University of Florida Dr. Anna-Lisa Paul, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (14/5/2022).

Ini merupakan eksperimen pertama yang menginvestigasi apakah tanaman bisa tumbuh di tanah Bulan. Karena tanah ini sangat berharga dan langka, NASA hanya meminjamkan 12 gram saja, setara dengan beberapa sendok teh, kepada ilmuwan untuk melakukan eksperimen.

Ilmuwan telah lama mencari tahu apakah tanah Bulan memungkinkan untuk ditanami tanaman. Tapi mengingat NASA berencana mengirimkan astronaut ke Bulan untuk kemudian mendirikan koloni di sana, maka pertanyaannya jadi makin mendesak.

Lunar Plants Research Documentation, Friday May 14th, 2021.Lunar Plants Research Documentation, Friday May 14th, 2021. Foto: UF/IFAS Photo by Tyler Jones/Tyler Jones

Untuk melakukan eksperimen ini, ilmuwan menanam benih thale cress di tanah Bulan yang dibawa pulang oleh misi Apollo 11, 12, dan 17. Ilmuwan juga menanam benih yang sama di campuran abu vulkanik dan mineral yang meniru tanah di Bulan dan Mars.

Ketika diteliti beberapa hari kemudian, ilmuwan terkejut karena melihat semua bibitnya telah berkecambah. Tapi tidak semua bibit tumbuh secara optimal.

Secara keseluruhan, bibit yang ditanam di tanah Bulan bernasib lebih buruk ketimbang bibit yang ditanam di abu vulkanik. Alasannya, tanah Bulan miskin nutrisi, kaya akan partikel besi, dan dipenuhi pecahan kaca dari meteorit, sehingga sulit menjadi medium tumbuh.

Tanah Bulan yang paling tidak mendukung untuk menanam tanaman adalah sampel tanah yang dibawa pulang oleh Apollo 11. Sampel tanah ini lebih terekspos dengan permukaan Bulan dibandingkan sampel yang dibawa pulang Apollo 12 dan 17.

Ilmuwan menduga tanah ini terpapar lebih banyak sinar kosmik dan radiasi dari angin matahari karena posisinya lebih atas, sehingga sulit bagi tanaman untuk tumbuh. Dengan temuan ini, petani masa depan di Bulan bisa mencari tanah yang usianya lebih muda dan belum terpapar kondisi ekstrem.

"Ada area di permukaan Bulan, aliran lava yang sangat luas, yang miliaran tahun lebih muda dibandingkan lokasi pendaratan Apollo 11, 12, dan 17," kata Dr. Stephen Elardo.

"Mendatangi lokasi yang lebih muda di Bulan mungkin akan menghadirkan substrat yang lebih ramah, tanpa perlu mengebor atau menambang material terlalu dalam," sambungnya.

(vmp/rns)