The Dancing Plague, Wabah Misterius Menari Sampai Mati

The Dancing Plague, Wabah Misterius Menari Sampai Mati

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 10 Mei 2022 05:45 WIB
Wabah menari
The Dancing Plague, Wabah yang Bikin Penderitanya Menari Sampai Mati (Foto: Guardian)
Jakarta -

Wabah misterius bukan cuma ada sekarang saja. Dahulu pernah ada wabah The Dancing Plague, penderitanya menari sampai mati. Mengerikan!

Menari mungkin menjadi salah satu hobi dari segelintir orang. Tetapi, jika terus menari tanpa henti, bukannya rasa senang yang didapatkan, kegiatan menari bisa membuat orang stres hingga meninggal dunia. Inilah yang terjadi ketika 'The Dancing Plague' alias 'Wabah Menari' di tahun 1518.

Pada 14 Juli 1518, Frau Troffea dari Strasbourg, Prancis, keluar rumah dan mulai menari di jalanan. Awal mulanya, semua merasa senang melihat Troffea yang menari. Tetapi, Troffea terus menari selama berjam-jam, ia berkeringat dan mulai kelelahan.

Melansir All Thats Interesting, Selasa (10/5/2022) Troffea seakan kesurupan, dia mulai menari lagi keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, sepertinya tidak bisa berhenti. Yang lain segera mulai mengikuti dengan total sekitar 400 penduduk. Mereka menari tak terkendali selama sekitar dua bulan penuh.

Tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan penduduk kota menari di luar keinginan mereka. Tetapi pada akhirnya, sebanyak 100 orang meninggal. Sejarawan menjuluki peristiwa aneh dan mematikan ini sebagai 'Dancing Plague 1518'.

Penyebab 'The Dancing Plague'

Orang zaman dulu belum terpapar dengan ilmu pengetahuan yang semasif era modern. Karena itu, segelintir orang percaya ini adalah hasil kelakuan iblis. Troffea dan masyarakat yang menari itu disebut sebagai orang berdosa sehingga tidak mampu melawan kemampuan iblis yang menguasai tubuh mereka. Tapi tidak semua berpendapat demikian.

Lima abad kemudian, sejarawan masih tidak yakin tentang apa yang menyebabkan wabah menari tahun 1518. Penjelasan modern bervariasi, ada yang mengklaim bahwa para penari ini terkena efek dari jamur psikotropika yang dikenal sebagai ergot, yang tumbuh di batang gandum hitam yang lembab. Ergot dapat menghasilkan bahan kimia yang mirip dengan LSD.

Namun ada teori lain, sejarawan John Waller mengemukakan bahwa wabah menari hanyalah gejala histeria massa abad pertengahan. Waller, penulis 'A Time to Dance, A Time to Die: The Extraordinary Story of the Dancing Plague of 1518' dan pakar terkemuka dalam subjek ini, percaya bahwa histeria massal yang disebabkan oleh kondisi mengerikan di Strasbourg pada saat itu -- kemiskinan ekstrem, penyakit, dan kelaparan - menyebabkan penduduk kota menari karena psikosis akibat stres.



Simak Video "Sudah 304 Hewan Ternak Terjangkit Wabah PMK di Lebak, Dua Mati"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)