536, Tahun Terburuk Bumi Sepanjang Sejarah!

536, Tahun Terburuk Bumi Sepanjang Sejarah!

ADVERTISEMENT

536, Tahun Terburuk Bumi Sepanjang Sejarah!

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 15 Apr 2022 15:35 WIB
REFILE - CORRECTING NAME OF VOLCANO: A cloud of smoke from Manaro Voui volcano is seen on Vanuatus northern island Ambae in the South Pacific, September 25, 2017 in this aerial picture. COURTESY THOMAS BOYER, VOLCANOLOGIST via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES
Ilustrasi gunung berapi. Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

2020 bisa dibilang adalah tahun berat yang dialami manusia karena pandemi COVID-19. Banyak nyawa yang terenggut karena virus Sars-CoV-2 ini dan jutaan manusia dilanda kesedihan.

Namun, 2020 bukanlah satu-satunya tahun yang dilanda peristiwa buruk. Ada juga 1349 yang dilanda wabah Black Death, atau pandemi flu di 1918. Michael McCormick sejarawan dan arkeolog dari Harvard University Initiative for the Science of the Human Past mengatakan ada lagi tahun yang disebut sebagai 'tahun terburuk' untuk hidup -- 356.

"Itu adalah awal dari salah satu periode terburuk untuk hidup -- kalau-kalau itu bukan tahun terburuk," kata McCormick melansir Science.

Semua bermula dari kabut misterius yang melanda Eropa, Timur Tengah dan sebagian Asia. Kabut itu menimbulkan kegelapan selama 18 bulan lamanya. Matahari terlihat bagaikan Bulan, suhu mendadak turun drastis.

Temperatur di musim panas juga turun. Salah satu yang terparah adalah di China, di mana musim panasnya sempat diwarnai dengan turunnya salju.

Dari cuaca yang buruk, ini berpengaruh pada hasil panen yang gagal. Bencana kelaparan juga melanda dan mengambil banyak nyawa-nyawa tidak berdosa. Kemalangan ini melanda hingga berpuluh tahun, tepatnya sampai tahun 660.

Lantas, apa yang menjadi penyebab tahun buruk 536? McCormick dan ahli glasiologi Paul Mayewski dari Climate Change Institute of The University of Maine (UM) di Orono mengatakan kemungkinan ini dikarenakan letusan gunung vulkanis di awal tahun 536 yang diikuti dua letusan besar di tahun 540 dan 547.

Lebih lanjut, dari studi cincin pohon pada 1990-an, menunjukkan bahwa musim panas sekitar tahun 540 sangat dingin. Sampai akhirnya, inti es kutub dari Greenland dan Antartika memberikan petunjuk dari penyebab dinginnya era tersebut.

Ketika gunung berapi meletus, dipercaya ia memuntahkan belerang, bismut, dan zat lain tinggi ke atmosfer, di mana mereka membentuk selubung aerosol yang memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa, sehingga mendinginkan planet ini.

Dengan mencocokkan catatan es dari jejak kimia ini dengan catatan iklim cincin pohon, tim yang dipimpin oleh Michael Sigl (sekarang dari Bern University) menemukan bahwa hampir setiap musim panas yang luar biasa dingin selama 2.500 tahun terakhir didahului oleh letusan gunung berapi.



Simak Video "Menkominfo soal Badai PHK di Perusahaan Teknologi"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/jsn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT