Al Kindi, Ilmuwan Serba Bisa dan Pemecah Kode Rahasia

ADVERTISEMENT

Al Kindi, Ilmuwan Serba Bisa dan Pemecah Kode Rahasia

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 12 Apr 2022 04:02 WIB
An illustration picture shows a projection of binary code on a man holding a laptop computer, in an office in Warsaw June 24, 2013. REUTERS/Kacper Pempel/Illustration/File Photo
Al-Kindi, Ilmuwan Serba Bisa Pionir Teori Pemecah Kode Rahasia (Foto: Reuters/Kacper Pempel)
Jakarta -

Penggunaan kode rahasia atau sandi mulai populer di masa Perang Dunia II. Sandi sangat penting karena setiap informasi perlu dijaga kerahasiaannya dari musuh. Ada seorang ilmuwan serba bisa bernama Al Kindi di balik ini.

Al Kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat. Dikutip dari aplikasi Islami KESAN, Selasa (11/4/2022) Al Kindi adalah orang pertama yang berhasil menyusun teori pemecahan sandi (kriptoanalisis). Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al Kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai.

"Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasanya, adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya," kata Al Kindi.

Setelah itu, lanjut Al Kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya.

Di situ, kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul. Lalu simbol itu diubah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya sampai seluruh simbol terbaca.

Teknik itu kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.

Misalnya, dalam bahasa Indonesia huruf yang paling sering muncul adalah huruf 'a'. Dengan demikian, huruf pengganti 'a' akan muncul paling banyak dalam kalimat, sehingga kata sebenarnya dapat diprediksi. Jadi yang perlu dipastikan hanya bahasa yang digunakan dalam pesan kode.

Al Kindi terinspirasi menyusun teori ini setelah mempelajari kata-kata dalam Al-Qur'an. Istilah kriptoanalisa sendiri baru muncul di abad 20, namun teori dasarnya telah disusun oleh Al Kindi pada 9 abad yang lalu.

Kriptografi dikuasai Al Kindi, lantaran dia adalah pakar di bidang Matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. Al Kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi.

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi, telah mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisis.



Simak Video "Kisah Ilmuwan yang Celaka Karena Temuannya Sendiri "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT