Studi: COVID-19 Tingkatkan Risiko Kesehatan Mental

Studi: COVID-19 Tingkatkan Risiko Kesehatan Mental

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 18 Feb 2022 09:45 WIB
WHO Ingatkan Dampak Jangka Panjang COVID-19 terhadap Kesehatan Mental
Foto: DW (News)
Jakarta -

COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, penggunaan narkoba, dan gangguan tidur. Risiko ini dapat mengenai penderita COVID-19 hingga satu tahun setelah mereka terinfeksi virus.

Ini adalah hasil studi sebuah penelitian di AS. Temuan yang dipublikasikan di The British Medical Journal ini menunjukkan bahwa penanganan gangguan kesehatan mental di antara para penyintas COVID-19 harus menjadi prioritas.

Lebih dari 403 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus ini sejak pandemi dimulai. Perhitungan kami tidak memperhitungkan jumlah orang yang tidak terhitung, kemungkinan jutaan, yang menderita dalam diam karena stigma negatif kesehatan mental atau kurangnya sumber daya atau dukungan," kata Al-Aly, ahli epidemiologi klinis di University of Washington.

Peneliti menggunakan data dari database perawatan kesehatan nasional Departemen Urusan Veteran AS untuk memperkirakan risiko hasil kesehatan mental pada orang yang bertahan setidaknya 30 hari setelah hasil tes PCR positif antara Maret 2020 hingga Januari 2021.

Mereka membandingkan hasil kesehatan mental dalam kumpulan data COVID-19 dengan dua kelompok orang lain yang tidak terinfeksi virus. Dua kelompok tersebut terdiri dari: kelompok terkontrol yang terdiri dari lebih dari 5,6 juta pasien yang tidak memiliki COVID-19 selama jangka waktu yang sama, dan kelompok terkontrol lebih dari 5,8 juta pasien dari Maret 2018 hingga Januari 2019, jauh sebelum pandemi dimulai.

Mayoritas peserta penelitian adalah pria kulit putih yang lebih tua. Namun, karena ukurannya yang besar, penelitian ini melibatkan lebih dari 1,3 juta wanita, lebih dari 2,1 juta peserta berkulit hitam, dan sejumlah besar orang dari berbagai usia.

Kelompok COVID-19 selanjutnya dibagi menjadi mereka yang dirawat atau tidak dirawat di rumah sakit selama fase infeksi akut. Informasi lain juga dikumpulkan terkait faktor-faktor yang berpotensi berpengaruh termasuk usia, ras, jenis kelamin, gaya hidup, dan riwayat medis.

Para peneliti kemudian mengikuti ketiga kelompok selama satu tahun untuk memperkirakan risiko hasil kesehatan mental yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk gangguan kecemasan, depresi dan stres, gangguan penggunaan zat, penurunan neurokognitif, dan gangguan tidur.

Dibandingkan dengan kelompok terkontrol yang tidak terinfeksi, orang dengan COVID-19 menunjukkan risiko 60% lebih tinggi dari diagnosis atau menerima resep kesehatan mental dalam satu tahun.

Ketika para peneliti memeriksa gangguan kesehatan mental secara terpisah, mereka menemukan bahwa COVID-19 dikaitkan dengan penambahan 24 per 1.000 orang dengan gangguan tidur dalam satu tahun, 15 per 1.000 dengan gangguan depresi, 11 per 1.000 dengan penurunan neurokognitif, dan 4 per 1.000 dengan gangguan mental.

Hasil serupa ditemukan ketika kelompok COVID-19 dibandingkan dengan kelompok kontrol historis. Risiko tertinggi terjadi pada orang yang dirawat di rumah sakit selama fase awal COVID-19.

Orang dengan COVID-19 juga menunjukkan risiko gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi daripada mereka yang menderita influenza musiman, kata para peneliti.

Mereka yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 menunjukkan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental dibandingkan dengan mereka yang dirawat di rumah sakit karena alasan lain.

Para peneliti memperingatkan bahwa ini adalah studi observasional, jadi tidak dapat menetapkan penyebabnya. Mereka juga memberikan catatan bahwa beberapa bias kesalahan klasifikasi mungkin bisa terjadi.

Studi ini melibatkan sebagian besar pria kulit putih yang lebih tua, jadi hasilnya mungkin tidak berlaku untuk kelompok lain, tambah mereka. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bertahan dari fase akut COVID-19 berada pada peningkatan risiko serangkaian gangguan kesehatan mental, dan bahwa penanganan gangguan kesehatan mental di antara penyintas penyakit harus menjadi prioritas.



Simak Video "Epidemiolog Tegaskan Sering Terinfeksi Covid-19 Tak Bikin Tubuh Kian Kebal"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)