Studi: COVID-19 Bisa Sebabkan Masalah Jantung Jangka Panjang

Studi: COVID-19 Bisa Sebabkan Masalah Jantung Jangka Panjang

ADVERTISEMENT

Studi: COVID-19 Bisa Sebabkan Masalah Jantung Jangka Panjang

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 17 Feb 2022 18:05 WIB
ilustrasi sakit jantung
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sebuah penelitian terbaru mendukung gagasan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan masalah jantung secara jangka panjang.

Analisis data kesehatan AS menemukan bahwa pasien COVID-19 berada pada peningkatan risiko komplikasi jantung, setidaknya selama satu tahun setelah infeksi.

Komplikasi tersebut termasuk masalah irama jantung, peradangan, pembekuan darah, stroke, penyakit arteri koroner, serangan jantung, hingga gagal jantung dan kematian, demikian menurut temuan yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal Nature Medicine.

"Untuk orang-orang yang jelas-jelas berisiko terkena penyakit jantung sebelum terinfeksi SARS-CoV-2, temuan ini menunjukkan bahwa COVID-19 dapat memperbesar risiko tersebut," kata penulis senior Dr. Ziyad Al-Aly, asisten profesor kedokteran di University of Washington di St. Louis, AS, dikutip dari United Press International.

"Tetapi yang paling luar biasa, orang yang tidak pernah memiliki masalah jantung dan dianggap berisiko rendah juga mengembangkan masalah jantung setelah COVID-19," sambungnya.

Risiko ini termasuk tua dan muda, pria dan wanita, orang dari semua ras, orang dengan obesitas dan mereka yang tidak. Selain itu, orang dengan dan tanpa diabetes, mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dan mereka yang tidak memilikinya, orang dengan infeksi COVID-19 ringan, serta mereka yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit parah, juga terkena risiko ini.

Untuk penelitian ini, timnya menganalisis data sistem kesehatan Departemen Urusan Veteran AS pada hampir 154.000 pasien yang dites positif COVID-19 antara 1 Maret 2020 hingga 15 Januari 2021, dan dinyatakan selamat pada 30 hari pertama penyakit tersebut.

Sangat sedikit yang diimunisasi karena vaksin COVID-19 belum tersedia secara luas ketika data dikumpulkan.

Pasien tersebut dibandingkan dengan lebih dari 5,6 juta pasien yang tidak memiliki COVID-19 selama periode tersebut dan dengan lebih dari 5,8 juta pasien yang dilihat oleh sistem kesehatan VA sebelum pandemi (Maret 2018 hingga Januari 2019).

Para peneliti menemukan bahwa pada tahun setelah mereka terinfeksi, pasien COVID-19 memiliki tingkat penyakit jantung 4% lebih tinggi, termasuk gagal jantung dan kematian, dibandingkan mereka yang tidak memiliki COVID-19.

"Beberapa orang mungkin berpikir 4% adalah angka yang kecil, tetapi ternyata tidak, mengingat besarnya pandemi," kata Al-Aly.

Itu berarti, sekitar 3 juta orang Amerika mengalami komplikasi jantung akibat COVID-19.

Dibandingkan dengan kelompok kontrol, pasien COVID-19 memiliki risiko penyakit arteri koroner 72% lebih tinggi, risiko serangan jantung 63% lebih tinggi, dan risiko stroke 52% lebih tinggi.

Secara keseluruhan, pasien ini memiliki risiko 55% lebih tinggi dari kejadian kardiovaskular utama yang merugikan yang mencakup serangan jantung, stroke, dan kematian.

Sejauh ini, lebih dari 380 juta orang di seluruh dunia telah menderita COVID-19 sejak awal pandemi.

"Akibatnya, infeksi COVID-19 sejauh ini berkontribusi pada 15 juta kasus baru penyakit jantung di seluruh dunia. Ini cukup signifikan. Bagi siapa saja yang pernah terinfeksi, kesehatan jantung menjadi bagian integral dari perawatan pasca-akut COVID," kata Al-Aly.

Selain masalah jantung, COVID juga dapat menyebabkan komplikasi lain yang dikenal secara kolektif sebagai long COVID. Al-Aly mengatakan temuan tersebut menyoroti pentingnya mendapatkan vaksinasi terhadap COVID-19 sebagai cara untuk mencegah kerusakan jantung.



Simak Video "Obat Covid-19 untuk Pasien Isolasi Mandiri Masih Gratis"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT