Ini Sebab Omicron Lebih Cepat Menular Dibandingkan Delta

Ini Sebab Omicron Lebih Cepat Menular Dibandingkan Delta

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 26 Jan 2022 22:37 WIB
Perbedaan Omicron dan Delta penting untuk diketahui. Saat ini, varian omicron tengah melanda Indonesia. Kemenkes pun memberi peringatan hingga wanti-wani.
Penyebab Omicron Lebih Cepat Menular Dibandingkan Delta. Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Virus Corona varian Omicron disebut lebih cepat menular dibandingkan varian Delta, sehingga dapat memicu gelombang COVID-19 baru. Ahli mengungkap penyebabnya.

Plt. Kepala PRBM Eijkman Wien Kusharyoto menyebutkan, Omicron lebih menular dibandingkan Delta karena kemampuannya dalam menghindari eliminasi antibodi, namun tingkat keparahan infeksi lebih rendah.

"Pada protein spike varian delta hanya terdapat 9 mutasi asam amino, dan 2 di antaranya terdapat pada receptor binding domain (RBD). Perubahan ini membuat varian Delta menghindari respons kekebalan terutama dalam hal ini, peningkatan antibodi, penetralisir virus yang sudah terdapat pada seseorang yang sudah divaksinasi maupun yang belum divaksinasi," bebernya saat berbicara di webinar Talk to Scientists, Rabu (26/1/2022).

Dalam varian Omicron, urainya, jumlah mutasinya meningkat tajam. Keseluruhan genom virus memiliki sekitar 50-60 mutasi, 30 di antaranya terdapat pada protein spike, dan 15 di antaranya terdapat pada RBD.

"RBD adalah bagian dari protein spike yang kemudian bertanggung jawab terhadap peningkatan pada reseptornya. Ini membuat Omicron mampu menghindar lebih baik dari netralisasi oleh antibodi-antibodi yang sebelumnya sudah terbentuk baik oleh varian sebelumnya, maupun vaksinasi, bahkan setelah dua kali vaksinasi," jelasnya.

Tingkat infeksi lebih rendah

Meski lebih menular dibandingkan Delta karena kemampuannya dalam menghindari eliminasi antibodi, tingkat keparahan infeksi Omicron lebih rendah.

"Berdasarkan studi, terjadi penurunan risiko terhadap hospitalisasi oleh varian Omicron dibandingkan Delta di tingkat populasi sebesar 40-45%," kata Wien.

Selain itu, varian Omicron juga menunjukkan 74% penurunan perawatan di instalasi gawat darurat (IGD) dibandingkan Delta, dan 70% penurunan lama perawatan di IGD bagi yang terinfeksi dibandingkan Delta.

Masih menurut studi, tingkat keparahan infeksi Omicron lebih rendah terutama karena varian Omicron menyerang sel pada saluran pernapasan atas.

"Varian Omicron tidak cukup mampu menyerang sel paru-paru sehingga serangan ke sel paru-paru lebih rendah dibandingkan Delta. Namun karena kemudahan dalam menginfeksi, akhirnya varian Omicron ini lebih banyak menginfeksi saluran pernapasan atas," terangnya.

Perlunya vaksin booster

Melihat karakteristik varian Omicron yang mampu menghindari kekebalan tubuh ini, diperlukan vaksinasi dosis ketiga atau booster.

"Efektivitas vaksin memang jauh lebih rendah oleh varian Omicron, namun dapat dilakukan booster agar perlindungannya menjadi lebih tinggi," kata Wien.

Namun ia juga mengingatkan, seiring berjalannya waktu vaksinasi booster pun akan berkurang efektivitasnya, kira-kira setelah 2,5 bulan pemberian booster.

Penurunan efektivitas booster kemungkinan besar lebih landai dibandingkan dengan penurunan perlindungan setelah vaksinasi tahap kedua. Menurutnya, varian Omicron dapat menambah infeksi lebih parah terhadap seseorang dan hospitalisasi bagi mereka yang belum divaksinasi.

"Kalau seseorang sudah divaksinasi maka kemungkinan harus dirawat di rumah sakit jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang belum divaksinasi. Jadi vaksin tetap melindungi, booster terutama penting untuk mengurangi risiko infeksi, dampak parah infeksi dan hospitalisasi," tutupnya.



Simak Video "WHO Analisis Perilaku Varian Omicron vs Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)