Ibu Kota Negara Baru Tak Alami Fenomena Ekuiluks

Ibu Kota Negara Baru Tak Alami Fenomena Ekuiluks

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 25 Jan 2022 07:45 WIB
The rising sun is seen between clouds over the pier of Scharbeutz at the Baltic Sea, Germany, Monday, July 6, 2020. (AP Photo/Michael Probst)
Ilustrasi Matahari. Foto: AP/Michael Probst
Jakarta -

Sebanyak 39 wilayah di Indonesia mengalami ekuiluks, yaitu waktu siang sama panjangnya dengan malam tepat 12 jam. Tapi ada juga wilayah yang tidak mengalaminya, termasuk Ibu Kota Negara Baru.

Disebutkan Peneliti Pusat Riset Antarika BRIN Andi Pangerang lewat situs Edukasi Sains Antariksa LAPAN, ada 13 ibu kota provinsi di Indonesia tidak dapat mengalami Ekuiluks. Kota-kota tersebut adalah:

  1. Padang (Sumatra Barat)
  2. Pekanbaru (Riau)
  3. Tanjungpinang (Kep. Riau)
  4. Jambi (Jambi)
  5. Pangkalpinang (Bangka Belitung)
  6. Pontianak (Kalimantan Barat)
  7. Palangkaraya (Kalimantan Tengah)
  8. Samarinda (Kalimantan Timur)
  9. Palu (Sulawesi Tengah)
  10. Gorontalo (Gorontalo)
  11. Manado (Sulawesi Utara)
  12. Sofifi (Maluku Utara)
  13. Sorong (Papua Barat)

Penyebab tak bisa alami ekuiluks

Mengapa ketiga belas kota tersebut tidak dapat mengalami ekuiluks? Hal ini karena 13 kota tersebut terletak di antara 2,3 derajat LU hingga 2,3 derajat LS.

Wilayah 2,3 derajat LU adalah lokasi terakhir mengalami ekuiluks yang terjadi saat Solstis Desember (untuk Indonesia terletak di Balige, Kab. Toba). Selain itu, 2,3 derajat LS adalah lokasi terakhir yang mengalami Solstis Juni (di Indonesia terletak di Sarolangun, Kab. Sarolangun).

Wilayah yang terletak di antara 2,3 derajat LU hingga 2,3 derajat LS akan mengalami panjang siang yang sedikit lebih lama dari 12 jam saat solstis dan tidak akan pernah mencapai panjang siang tepat 12 jam.

Selain 13 ibu kota provinsi yang sudah disebutkan di atas, ada 17 provinsi yang enam di antaranya, di seluruh kota dan kabupaten tersebut tidak mengalami ekuiluks (dicetak tebal). Berikut daftarnya:

  1. NAD: Aceh Singkil
  2. Sumatra Utara: Dolok Sanggul (Humbang Hasundutan), Rantauparapat (Labuhan Batu), Kota Pinah (Labuhan Batu Selatan), Tarutung dan Siborong-borong (Tapanuli), Pandan dan Barus (Tapanuli Tengah), Sipirok (Tapanuli Selatan), Sibolga, Padangsidempuan, Gunung Tua (Padang Lawas Utara), Sibuhan (Padang Lawas), Panyabungan (Mandailing Natal), dan seluruh Kabupaten-Kota di Pulau Nias dan Kep. Batu (Kota Gunungsitoli, Nias Utara, Nias Barat, Nias dan Nias Selatan)
  3. Sumatra Barat
  4. Riau
  5. Riau (kecuali Kab. Natuna dan Kab. Kep. Anambas)
  6. Jambi (kecuali Kab. Sorolangun)
  7. Bangka Belitung: Sungailiat (Kab. Bangka), dan Muntok (Bangka Barat)
  8. Kalimantan Barat
  9. Kalimantan Tengah: Langa Bulik (Lamandau), Kasongan (Katingan), Kualakurun (Gunung Mas), Purukcahu (Murung Raya), Barito Utara, Buntok (Barito Selatan), Barito Timur (Tamiang Layang)
  10. Kalimantan Selatan: Tanjung (Tabalong)
  11. Kalimantan Timur (termasuk Ibu Kota Negara Baru di Penajam Paser Utara)
  12. Sulawesi Utara (kecuali Kab. Kep. Talaud)
  13. Gorontalo
  14. Sulawesi Tengah (kecuali Bungkul Kab. Morowali)
  15. Maluku Utara
  16. Papua Barat (kecuali Fakfak, Kaimana, dan Rasiei Kab. Teluk Wondama)
  17. Papua: Kota Biak (Biak Numfoor), Sorendiweri (Supriori), Serui (Kep. Yapen), Sarmi.

Meskipun wilayah-wilayah tersebut tidak mengalami panjang siang sama dengan panjang malam, panjang siang dalam satu tahun masih berkisar antara 12 jam 1 menit hingga 12 jam 16 menit.

Wilayah yang tidak mengalami ekuiluks juga dilalui oleh garis Khatulistiwa. Hal ini menunjukkan bahwa di Khatulistiwa tidak akan pernah mengalami ekuiluks sekalipun saat terjadi ekuinoks dikarenakan pembiasan sinar Matahari oleh atmosfer Bumi, sehingga Matahari akan terbit lebih cepat dan terbenam lebih lambat dibandingkan ketika Bumi tidak beratmosfer.



Simak Video "Mengenal Fenomena Ekuiluks yang Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)