Kasihan, Gajah Mati Akibat Makan Sampah Plastik

Kasihan, Gajah Mati Akibat Makan Sampah Plastik

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 17 Jan 2022 13:46 WIB
gajah mati
Kasihan, Gajah Mati Akibat Makan Sampah Plastik. Foto: AP/Achalla Pussalla via Phys.org
Jakarta -

Konservasionis dan dokter hewan memperingatkan bahwa sampah plastik di tempat pembuangan sampah terbuka di Sri Lanka timur membunuh gajah di wilayah tersebut. Peringatan keras ini disuarakan setelah ditemukan dua lagi gajah mati selama akhir pekan lalu.

Tercatat sekitar 20 gajah mati selama delapan tahun terakhir setelah memakan sampah plastik di tempat pembuangan sampah di desa Pallakkadu di distrik Ampara, sekitar 210 kilometer timur ibukota, Kolombo.

Dokter hewan satwa liar Nihal Pushpakumara menyebutkan, pemeriksaan terhadap hewan yang mati menunjukkan bahwa mereka telah menelan sejumlah besar plastik yang tidak dapat terurai yang ditemukan di tempat pembuangan sampah.

"Polythene, pembungkus makanan , plastik, bahan non-digestible lainnya dan air adalah satu-satunya hal yang bisa kita lihat di post mortem. Makanan normal yang dimakan dan dicerna gajah tidak jelas," katanya seperti dikutip dari Phys.org, Senin (17/1/2022).

Gajah merupakan makhluk yang sangat dihormati di Sri Lanka. Hewan ini kini terancam punah. Jumlah mereka telah berkurang dari sekitar 14.000 pada abad ke-19 menjadi 6.000 pada tahun 2011, menurut sensus gajah pertama di negara itu.

Keberadaan mereka semakin rentan karena degradasi dan hilangnya habitat alami mereka. Banyak yang menjelajah lebih dekat ke pemukiman manusia untuk mencari makanan, dan beberapa dibunuh oleh pemburu liar atau petani yang marah karena merusak tanaman mereka.

"Gajah lapar mencari makanan di tempat pembuangan sampah, memakan plastik serta benda tajam yang merusak sistem pencernaan mereka," kata Pushpakumara.

Gajah-gajah itu kemudian berhenti makan dan menjadi terlalu lemah untuk menopang tubuhnya yang berat. Ketika itu terjadi, mereka tidak bisa mengonsumsi makanan atau air, dan mempercepat proses kematian mereka.

Pada tahun 2017, pemerintah mengumumkan akan mendaur ulang sampah di tempat pembuangan di dekat zona satwa liar untuk mencegah gajah mengonsumsi sampah plastik. Mereka juga mengatakan akan mendirikan pagar listrik di sekitar lokasi untuk menjauhkan hewan-hewan itu. Namun hingga saat ini kedua rencana tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan.

Ada 54 tempat pembuangan sampah di zona satwa liar di seluruh Sri Lanka, dengan sekitar 300 gajah berkeliaran di dekat mereka. Tempat pengelolaan sampah di desa Pallakkadu didirikan pada tahun 2008 dengan bantuan dari Uni Eropa. Sampah yang dikumpulkan dari sembilan desa terdekat dibuang di sana tetapi tidak didaur ulang.

Pada tahun 2014, pagar listrik yang melindungi situs tersebut disambar petir dan pihak berwenang tidak pernah memperbaikinya sehingga gajah dapat masuk dan mengacak-acak tempat pembuangan sampah. Warga mengatakan gajah telah bergerak lebih dekat dan menetap di dekat lubang pembuangan, memicu ketakutan di antara penduduk desa terdekat.

Banyak yang menggunakan petasan untuk mengusir gajah ketika mereka berkeliaran di desa, dan beberapa lainnya memasang pagar listrik di sekitar rumah mereka. Tetapi penduduk desa sering tidak tahu cara memasang pagar listrik yang benar sehingga membahayakan nyawa mereka sendiri dan juga gajah.

"Meskipun kita menyebutnya sebagai ancaman, gajah liar juga merupakan sumber daya. Pihak berwenang perlu menemukan cara untuk melindungi kehidupan manusia dan gajah yang juga memungkinkan kita untuk melanjutkan kegiatan pertanian," katanya.



Simak Video "WWF Prediksi Polusi Plastik di Lautan Dunia Naik 4x Lipat pada 2050"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)