Bukan Indonesia, Ini Negara Penghasil Sampah Plastik Nomor 1 Dunia

Bukan Indonesia, Ini Negara Penghasil Sampah Plastik Nomor 1 Dunia

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 20 Des 2021 09:47 WIB
Ilustrasi Sampah Plastik
Negara Ini Jadi Penghasil Sampah Plastik Nomor 1 Dunia. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sebanyak 242 juta metrik ton barang dibuang di seluruh dunia setiap tahun, setara dengan sekitar sepuluh miliar patung Liberty. Lebih dari seperenam dari total itu hanya berasal dari satu negara.

"Pada tahun 2016, Amerika Serikat adalah penghasil sampah plastik terbesar," demikian bunyi laporan terbaru dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine.

Dikutip dari IFL Science, Senin (20/12/2021) laporan tersebut ditugaskan oleh Kongres sebagai bagian dari Save Our Seas 2.0 Act, yang disahkan dengan dukungan bipartisan pada Desember 2020.

"Sampah plastik adalah krisis lingkungan dan sosial yang perlu ditangani AS secara tegas dari sumber ke laut," kata Margaret Spring, kepala konservasi dan sains di Monterey Bay Aquarium, yang mengetuai komite ahli yang menyusun laporan tersebut.

"Sampah plastik yang dihasilkan oleh AS memiliki begitu banyak konsekuensi, berdampak pada komunitas pedalaman dan pesisir, mencemari sungai, danau, pantai, teluk, dan saluran air kita," tambah Spring.

Ditambahkannya, ini menempatkan beban sosial dan ekonomi pada populasi yang rentan, membahayakan habitat laut dan satwa liar, dan mencemari perairan tempat manusia bergantung untuk makanan dan mata pencaharian.

Laporan tersebut menemukan bahwa AS bertanggung jawab atas diperkirakan 42 juta metrik ton sampah plastik pada tahun 2016. Itu lebih dari dua kali lipat hampir semua negara lain di Bumi, dan lebih dari gabungan 28 negara Uni Eropa. Per kapita, orang AS menghasilkan sekitar 130 kilogram sampah plastik setiap tahun.

Sebagian besar limbah ini berakhir di tempat pembuangan sampah, tetapi terlalu banyak yang akhirnya "bocor" ke lingkungan. Ini disebabkan oleh pilihan yang jelas tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah sembarangan, atau mengirim setara 68.000 kontainer sampah ke negara berkembang yang juga kewalahan.

Bahkan sampah plastik yang dikelola dengan baik pun dapat berakhir di lingkungan, dan terjadi pada tingkat yang dilaporkan sekitar satu atau dua juta megaton per tahun.

Kita sudah tahu apa konsekuensinya: dalam waktu kurang dari satu dekade, laporan tersebut memperingatkan, jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut dapat mencapai hingga 53 juta megaton per tahun pada tahun 2030, atau kira-kira setengah dari total berat ikan yang ditangkap dari laut setiap tahun.

Menurut laporan tahun 2016 oleh Ellen Macarthur Foundation, lautan diperkirakan akan menjadi lebih banyak plastik ketimbang ikan pada tahun 2050. Sekarang pun sudah banyak sekali spesies yang ditemukan tersedak, tercekik, hingga diracuni sampah plastik. Maka jangan kaget jika banjir sampah plastik berskala global akan terlihat di mana-mana.

"Ada urgensi untuk masalah ini," kata Jenna Jambeck, anggota komite ilmiah di balik laporan tersebut. "Produksi meningkat, timbulan sampah meningkat, sehingga dampak kebocoran juga berpotensi meningkat," sebutnya

Solusinya, atau setidaknya permulaan dari satu solusi, dituangkan dalam rencana intervensi enam poin. Pertama, panitia mengatakan bahwa AS harus mengurangi produksi plastik, terutama plastik yang tidak dapat digunakan kembali atau praktis dapat didaur ulang. Intervensi kedua membawa ini lebih jauh, yaitu dengan meminta inovasi bahan baru untuk menggantikan plastik yang bisa terdegradasi lebih cepat atau dapat lebih mudah didaur ulang atau digunakan kembali.

Ketiga, kita perlu mengubah jenis plastik yang kita gunakan. Cukup sederhana, jika kita menggunakan lebih sedikit produk sekali pakai dan sekali pakai, maka kita membuang lebih sedikit produk.

Target intervensi keempat adalah memperbaiki sistem pengelolaan sampah nasional, mulai dari infrastruktur, pengumpulan, pengolahan, pengendalian kebocoran, bahkan akuntansi.

Secara khusus, panitia penelitian ini merekomendasikan upaya untuk meningkatkan pengumpulan plastik ke dalam sistem pengelolaan sampah, daur ulang plastik, dan isolasi atau pengolahan sisa sampah plastik untuk menghindari kebocoran ke lingkungan, atau pada dasarnya mendaur ulang lebih banyak.

Poin lima adalah "menangkap limbah." Dengan kata lain, kita perlu mulai memungut sampah, membersihkan sungai atau pantai tempat sampah plastik menumpuk. Jika kita membersihkan limbah sebelum mencapai laut, seperti yang dilakukan saat ini, tugas pembersihan laut akan jauh lebih mudah.

"Untuk diketahui, pengerukan laut itu sendiri sangat mahal, tidak efisien, dan tidak praktis," kata laporan itu.

Poin terakhir, yang paling sederhana, adalah meminimalkan pembuangan di laut dari sampah plastik yaitu, berhenti membuang sampah langsung ke laut!

Tentu saja, hal-hal ini lebih mudah diucapkan dalam teori dibandingkan saat dilakukan. Tapi bagaimanapun, ini adalah bagian dari upaya untuk mencapai pengurangan sampah plastik, dan bisa ditiru oleh negara lain.

"Laporan tersebut merekomendasikan AS untuk menetapkan kebijakan federal dan strategi penelitian yang koheren, komprehensif, dan lintas sektoral untuk mengurangi kontribusinya terhadap limbah plastik terhadap lingkungan dan laut. Strategi ini harus dikembangkan oleh sekelompok ahli, atau badan penasihat eksternal, pada 31 Desember 2022. Implementasi strategi harus dinilai pada 31 Desember 2025," tutup laporan tersebut.



Simak Video "WWF Prediksi Polusi Plastik di Lautan Dunia Naik 4x Lipat pada 2050"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)