2021 Jadi Tahun Terpanas Keenam dalam Sejarah

ADVERTISEMENT

2021 Jadi Tahun Terpanas Keenam dalam Sejarah

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 15 Jan 2022 17:47 WIB
Jakarta -

NASA dan National Oceanic Administration (NOAA) mengatakan 2021 merupakan tahun terpanas keenam dalam catatan. Kedua badan sains ini juga mengungkap bahwa delapan tahun terakhir merupakan delapan tahun terpanas dalam sejarah.

"Faktanya adalah kami sekarang telah berpindah menuju rezim baru ... ini mungkin adalah dekade terpanas dalam ratusan, mungkin 1.000-an tahun," kata Director of Goddard Institute for Space Studies NASA Gavin Schmidt, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (14/1/2022).

"Ada cukup banyak perubahan sehingga menimbulkan dampak secara lokal," sambungnya.

Beberapa dampak lokal dari suhu panas ekstrem itu bisa ditemui di Amerika dan Eropa. Di pesisir barat daya Amerika Serikat dan Kanada bagian barat pada bulan Juni dan Juli 2021, suhu panas ekstrem memecahkan rekor sampai membuat jalan dan kabel listrik meleleh.

Di wilayah gurun di bagian selatan AS, Lembah Kematian yang dikenal sebagai salah satu tempat terpanas di Bumi mencatat rekor suhu hingga 54,4 derajat Celsius pada Juli 2021. Secara keseluruhan, NOAA mengatakan Juli 2021 merupakan bulan terpanas dalam catatan sejarah.

Benua Eropa juga mengalami suhu panas ekstrem. Di Sicily, Italia suhu panas di bulan Agustus 2021 mencapai 48,8 derajat Celsius dan hampir memecahkan rekor suhu terpanas di Eropa.

Tidak hanya bikin udara terasa gerah, suhu panas ekstrem juga menjadi masalah yang serius. Kunjungan ke unit gawat darurat di pesisir barat daya AS meningkat karena gelombang panas ekstrem.

Kota kecil bernama Lytton di British Columbia, Kanada juga mengalami kebakaran hutan parah setelah mencatat suhu terpanas dalam sejarah Kanada. "Skala tragedi manusia di sana, bahkan jika tidak ada korban jiwa, itu adalah komunitas yang sekarang hancur," kata Schmidt.

Panas yang terperangkap di lautan juga mencapai rekor baru di tahun 2021. Gelombang panas di lautan kini jadi makin sering terjadi, dan berpotensi mengancam populasi terumbu karang, merugikan industri perikanan, hingga membuat kekeringan di daratan makin parah.

Belum lama ini, Copernicus Climate Change Service yang merupakan bagian dari Uni Eropa juga merilis data rekor temperatur global. Data mereka sedikit berbeda dari yang dipaparkan NASA dan NOAA karena menggunakan metode yang berbeda untuk membuat perhitungannya.

Copernicus menemukan bahwa 2021 merupakan tahun terpanas kelima dalam catatan. Mereka juga mengonfirmasi bahwa suhu global meningkat lebih dari satu derajat Celsius sejak zaman pra-industri akibat gas rumah kaca yang dikeluarkan pembakaran bahan bakar.

Pakar pun mendesak transisi ke energi ramah lingkungan karena pemanasan global harus tetap di bawah dua derajat Celsius untuk mencegah dampak perubahan iklim yang mematikan.

(vmp/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT