Pandemi Bikin Orang-orang Jadi Melek Sains dan Jauhi Hoax

Pandemi Bikin Orang-orang Jadi Melek Sains dan Jauhi Hoax

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 05 Jan 2022 22:10 WIB
Vaksin AstraZeneca: Ilmuwan temukan pemicu efek samping pembekuan darah setelah vaksinasi
Pandemi Bikin Orang-orang Jadi Melek Sains. Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Sains, terutama sains baru, sering menghadapi penolakan. Namun ketika krisis kesehatan melanda, orang cenderung lebih baik dalam belajar bagaimana tetap sehat.

Informasi yang salah dan disinformasi tidak dapat disangkal mengikis kepercayaan pada institusi, termasuk otoritas kesehatan dan media berita. Teori konspirasi membentuk wacana kesehatan masyarakat, menyebabkan penanganan perawatan yang tidak efektif dan bahkan berbahaya, serta meracuni upaya untuk menerapkan kebijakan berbasis bukti seperti vaksinasi dan penggunaan masker.

"Ini mengkhawatirkan. Dalam sebuah pandemi, tidak perlu persentase tinggi dari populasi yang memegang kepercayaan yang salah untuk memiliki efek perilaku yang memengaruhi komunitas secara luas," kata Kathleen Hall Jamieson, direktur Pusat Kebijakan Publik Annenberg di University of Pennsylvania.

Untungnya, menurut Jamieson, ini bukan representasi keseluruhan literasi sains selama setahun terakhir. Pasalnya, orang-orang tidak hanya meningkatkan kosakata ilmiah mereka, tetapi juga menjadi tertarik mempelajari konsep-konsep penting dari biologi dan kesehatan masyarakat. Misalnya, siswa kini lebih tertarik pada peran ilmuwan dan petugas kesehatan.

"Kita memiliki kesempatan selama pandemi untuk meningkatkan pengetahuan sains. Dan sebenarnya, pandemi menghasilkan pengetahuan sains. Ini kabar baiknya," kata Jamieson seperti dikutip dari Wired, Rabu (5/1/2022).

Sementara itu, Allan Brandt, yang mengajar sejarah kedokteran dan kesehatan masyarakat di Harvard dan telah mempelajari epidemi HIV/AIDS, mengatakan bahwa situasi seperti pandemi membuat orang-orang menjadi lebih canggih secara keseluruhan tentang apa yang berisiko dan apa yang harus dihindari.

Para ahli seperti Brandt tertarik pada bagaimana krisis ini bertepatan dengan munculnya berbagai pendekatan ilmiah untuk masalah sosial. Literasi sains memainkan peran penting dalam hal itu.

"Ketika orang memahami sains yang relevan, mereka menjadi lebih mungkin untuk mendukung pendanaan sains, atau menerima tindakan medis atau yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, karena keyakinan membentuk tindakan," sebutnya.

Meskipun COVID-19 mungkin terasa seperti menjangkiti kita selamanya, pada kenyataannya para ilmuwan mampu memahami penyakit ini dan mendidik masyarakat tentang pandemi dalam waktu relatif cepat, dua tahun.

Tim Jamieson di Pusat Kebijakan Publik Annenberg telah melakukan survei tentang pengetahuan ilmiah selama pandemi. Mereka meminta pendapat peserta tentang efektivitas vaksin, masker, dan perilaku lainnya. Dan, terlepas dari pusaran hoax dan ketidakpercayaan yang melawan pengetahuan, Jamieson menemukan bahwa orang sebenarnya menjadi belajar.

Dalam dua survei terhadap sekitar 800 orang Amerika secara acak yang diambil pada bulan Juli hingga November 2020, mayoritas responden mengatakan bahwa mereka setuju bahwa memakai masker membantu mencegah penyebaran penyakit pernapasan.

Jumlah itu melonjak dari 79% menjadi 85% selama periode lima bulan. Dalam survei terpisah dari Maret dan April tahun ini, 75% mengatakan mendapatkan vaksin COVID-19 lebih aman daripada terkena virus.

"Kebanyakan orang mendapatkan jawaban yang benar. Dan mereka tidak memiliki jawaban itu sebelum COVID, karena jawaban ini khusus untuk COVID," katanya.

Memang, angka itu belum 100%. Tetapi bagi Jamieson, ini adalah angka mengejutkan yang patut dirayakan. "Orang tidak hanya menerima vaksin baru. Jika mereka melakukannya, kita akan memiliki serapan vaksin yang lebih tinggi. Itu tandanya mereka belajar sesuatu," jelasnya.

Peserta yang ragu-ragu terhadap vaksin dalam penelitian Jamieson menunjukkan bahwa mereka juga mempelajari sesuatu yang baru tentang kesehatan masyarakat.

"Sebelum vaksin Pfizer menerima persetujuan penuh, orang-orang berkata kepada kami, 'Itu belum disahkan. Tidak, tunggu sebentar! Itu belum disetujui. Artinya mereka sekarang tahu sesuatu tentang proses persetujuan dan proses otorisasi," terang Jamieson.

Para peneliti tidak yakin seberapa banyak pembelajaran ini akan bertahan. Terlalu sulit untuk menjawabnya saat kita masih dalam krisis. Namun setidaknya, kini kita memiliki ketahanan sains terhadap ancaman kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.



Simak Video "20 Spesies Anggrek Baru Ditemukan di Kosta Rika"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)