Anomali Bulan 'Ber-ber' dan Tahun Krusial Cuaca Ekstrim

Anomali Bulan 'Ber-ber' dan Tahun Krusial Cuaca Ekstrim

Ardhi Suryadhi - detikInet
Jumat, 26 Nov 2021 07:45 WIB
Hujan disertai angin dan petir melanda kawasan Bandung. Warga pun diimbau untuk berhati-hati dan waspada akan potensi cuaca esktrem.
Ilustrasi. Foto: Wisma Putra
Papua Barat -

Pernahkah Anda bertanya-tanya bahwa musim penghujan di Indonesia tak lagi melulu di bulan 'ber-ber'. Ya, maksudnya adalah di kisaran September, Oktober, November hingga Desember. Namun hujan atau bahkan banjir bisa saja tiba-tiba menerjang di bulan Juni atau Agustus yang dulunya identik sebagai musim panas.

Itulah bukti sahih tanda-tanda perubahan iklim (climate change)! Menurut Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa, dampak nyata perubahan iklim adalah munculnya cuaca ekstrim yang tak lagi bisa diprediksi seperti sebelumnya.

"Kita ingat beberapa waktu lalu di bulan Agustus harusnya musim panas malah hujan deras. Bahkan di bulan Agustus-September kalau gak salah di Kalimantan itu sudah mulai banjir. Nah salah satu yang disebabkan perubahan iklim itu adalah cuaca ekstrim. Jadi tidak saja kalau musim panas suhunya tinggi tapi juga pola cuaca yang berubah," ujar Fabby saat ditemui di sela Media Camp Huawei Indonesia di Raja Ampat, Papua Barat.

Kondisi cuaca tak menentu inilah yang diakibatkan karena adanya peningkatan temperatur dunia. Tentu saja, dunia sadar akan ancaman perubahan iklim yang menghadang dan tengah berupaya untuk menghindari krisis yang lebih parah.

Para ahli pun sepakat bahwa dunia harus membatasi kenaikan temperatur global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius hingga tahun 2030 mendatang. Hal ini yang kemudian pada tahun 2015 ada yang namanya persetujuan Paris atau Paris Agreement, dimana Indonesia juga turut meratifikasi kebijakannya.

Fabby Tumiwa, Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI)Fabby Tumiwa, Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Foto: Ardhi Suryadhi/detikINET

"Intinya RI ingin mengurangi emisi gas rumah kaca, dan RI sebagai anggota G20 itu juga jadi kontributor utama gas rumah kaca. Di Glasgow acara COP26 (Konferensi Perubahan Iklim) kemarin mau disepakati aturan mainnya karena saat ini kita hanya punya waktu menurut para ahli kurang dari 10 tahun untuk mencegah kenaikan temparatur itu tak lebih dari 1,5 derajat celcius," papar Fabby.

"Sebab dalam 8-9 tahun mendatang itu yang namanya carbon budget, jadi karbon yang masih masih bisa dikeluarkan untuk tidak melebihi tracehold itu akan habis. Oleh karena itu, kita hanya punya waktu kurang dari 10 tahun sehingga carbon budgetnya tidak terlampaui. Nah inilah pentingnya persetujuan Glasgow ini, jadi kemarin Glasgow ini menekankan urgensi untuk menekan kenaikan temperatur global di bawah 2 derajat," imbuhnya.

Dimana salah satu kesepakatan di COP26 Glasgow kemarin adalah mulai mengurangi pembangkit listrik tenaga uap dan menghapus subsidi energi fosil, dan di saat bersamaan mulai mempersiapkan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Dampak Terburuk

Lantas pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana jika kita gagal menekan kenaikan temperatur global minimal sampai 1,5 derajat celcius pada tahun 2030? Terlebih dengan kondisi sekarang saja dampak perubahan iklim sudah cukup nampol dengan munculnya anomali dan cuaca ekstrim.

Dikatakan Fabby, dampak terburuk yang bisa muncul tentunya akan lebih berbahaya lagi. Jangan sampai hal ini malah menjadi mimpi buruk masyarakat dunia.

"Kalau dari kajian para pakar itu sejatinya punya batas tracehold 2 derajat, tapi kalau dilihat 2 derajat maka dampak sosial ekonomi dan ekologinya jauh lebih besar dan sebenarnya secara global membuat negara-negara pulau kecil akan tenggelam karena permukaan air laut naik. Belum lagi ancaman peningkatan cuaca ekstrim, seperti hujan dan badai dengan intensitas dan frekuensi yang semakin tinggi," tukasnya.



Simak Video "Analisis BMKG terkait Kondisi Cuaca di Lokasi Bencana Alor dan Kota Batu"
[Gambas:Video 20detik]