3 Pahlawan yang Selamatkan Dunia dari Ancaman 'Kiamat'

ADVERTISEMENT

3 Pahlawan yang Selamatkan Dunia dari Ancaman 'Kiamat'

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 17 Nov 2021 05:40 WIB
Kota Hantu Peninggalan Tragedi Nuklir Chernobyl
Bencana Chernobyl melepaskan radiasi 400 kali lebih banyak ke atmosfer daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan mencemari jutaan hektar tanah di sekitarnya. Foto: Getty Images
Jakarta -

Tiga orang ini adalah pahlawan ketika dunia sudah diambang kehancuran parah. Bisa dibilang hampir 'kiamat', setidaknya di bagian Eropa. Mereka dengan berani melakukan aksi untuk mencegah tragedi Chernobyl menjadi lebih parah.

Pada tanggal 26 April 1986, di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl dekat kota Pripyat di Ukraina, tes keamanan pada larut malam mengalami kesalahan. Puluhan orang tewas segera setelahnya dan ribuan lainnya di tahun-tahun berikutnya. Bencana tersebut melepaskan radiasi 400 kali lebih banyak ke atmosfer daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan mencemari jutaan hektar tanah di sekitarnya.

Ini bisa jauh lebih buruk, tapi jika bukan karena keberanian tiga sukarelawan yakni engineer mesin Alexei Ananenko, engineer senior Valeri Bespalov dan pengawas shift Boris Baranov yang melangkah maju untuk melakukan misi yang dianggap banyak orang sebagai 'misi bunuh diri'.

Melansir History UK, pada hari terjadinya bencana dan dalam upaya mengendalikan kobaran api, petugas pemadam kebakaran memompa air ke dalam reaktor nuklir. Salah satu efek sampingnya adalah membanjiri ruang bawah tanah dengan air radioaktif. Ruang bawah tanah ini berisi katup yang ketika diputar akan mengalirkan 'kolam gelembung' yang berada di bawah reaktor dan yang bertindak sebagai pendingin untuk pembangkit.

Jika ketiga pria pemberani itu tidak berhasil dalam misi mereka, korban tewas Chernobyl kemungkinan akan mencapai jutaan. Fisikawan nuklir Vassili Nesterenko menyatakan bahwa ledakan itu akan memiliki kekuatan 3-5 megaton yang membuat sebagian besar Eropa tidak dapat dihuni selama ratusan ribu tahun.

Mengenakan pakaian selam dan hanya dilengkapi dengan senter, tiga sukarelawan melompat ke dalam kegelapan ruang bawah tanah di bawah dan pergi mencari katup penting tersebut.

Andrew Leatherbarrow, penulis buku 2016 Chernobyl 01:23:40, menghabiskan lima tahun untuk meneliti bencana tersebut. Dalam tulisannya, ruang bawah tanah dibanjiri air radioaktif tetapi petugas pemadam kebakaran sebelumnya telah memompa sebagian darinya, jadi pada saat orang-orang melompat ke air, itu hanya setinggi lutut.

Mereka juga bukan yang pertama masuk karena yang lain sudah pergi ke ruang bawah tanah untuk mengukur tingkat radiasi, meskipun sedikit atau tidak ada yang diketahui tentang nasib orang-orang ini. Tetapi tetap, penemuan katup merupakan keajaiban, seperti yang dikatakan Leatherbarrow.

"Orang-orang memasuki ruang bawah tanah dengan pakaian selam, air radioaktif sampai ke lutut mereka, di koridor yang diisi dengan segudang pipa dan katup, ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami," ungkapnya.

Ananenko mengatakan kepada media Soviet, bahwa semua orang di Chernobyl NPS menyaksikan operasi tersebut. Ketika misi mereka berhasil, semua orang bersorak gembira.

"Kami mendengar gemericik air dari tangki. Dan dalam beberapa menit kemudian kami dipeluk oleh orang-orang," ucapnya.



Simak Video "Putin Tertarik Kembangkan Nuklir di RI, Greenpeace Ingatkan Soal Radiasi"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT