Sedih, Setengah Terumbu Karang di Dunia Sudah Lenyap

Sedih, Setengah Terumbu Karang di Dunia Sudah Lenyap

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 22 Sep 2021 06:17 WIB
Pulau Sali dapat menjadi destinasi wajib dikunjungi bagi para pecinta diving. Keindahan alam bawah lautnya tak kalah mempesona dari yang lain. Penasaran? Lihat yuk.
Sedih, Setengah Terumbu Karang di Dunia Sudah Lenyap. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Terumbu karang menjadi ekosistem tak tergantikan bagi kehidupan laut, melindungi garis pantai, dan menopang mata pencaharian masyarakat di seluruh dunia, jadi sangat wajar jika kita semua harus prihatin ketika kehilangan. Sedihnya, setengah terumbu karang di Bumi sudah lenyap dalam 70 tahun terakhir.

Sebuah studi terbaru menunjukkan laju kerusakan terumbu karang terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Setengah dari terumbu karang Bumi telah mati sejak 1950.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal One Earth ini mencatat bahwa ikan yang ditangkap per kapita (atau lebih tepatnya, per "unit usaha") telah menurun 60% sejak 1950. Setengah terumbu karang yang hilang tersebut, mampu memberikan layanan ekologis seperti zaman 1950-an. Hilangnya terumbu karang menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati di terumbu karang dunia.

"Terumbu karang di seluruh dunia menghadapi dampak dari perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan, perusakan habitat, dan polusi," tulis para penulis dalam penelitian tersebut, dikutip dari Cnet.

"Dengan proyeksi degradasi terumbu karang yang terus berlanjut dan hilangnya keanekaragaman hayati dan tangkapan perikanan terkait, kesejahteraan dan pembangunan pesisir berkelanjutan dari komunitas manusia yang bergantung pada jasa ekosistem terumbu karang terancam," sambung mereka.

Seperti hutan kayu merah, terumbu karang adalah ekosistem yang sangat sensitif terhadap panas. Air yang memanas mengancam terumbu karang dengan memicu peristiwa pemutihan.

Ganggang menyediakan nutrisi bagi karang melalui fotosintesis, tetapi jika ganggang menjadi stres panas atau terlalu terpapar sinar Matahari, mereka malah menghasilkan racun. Karang kemudian mengeluarkan alga, menyebabkan karang memutih. Pemutihan, tergantung pada tingkat keparahannya, bisa berakibat fatal.

Para ilmuwan menyebutkan, tak perlu kenaikan suhu signifikan untuk menyebabkan masalah besar. Kenaikan suhu laut sebesar 0,068 derajat celcius saja, telah terbukti menjadi bencana besar bagi Great Barrier Reef Australia. Terumbu karang terbesar di dunia ini mengalami tiga peristiwa pemutihan selama lima tahun terakhir.

Belize Barrier Reef dan Great Florida Reef, ekosistem terumbu karang terbesar kedua dan ketiga di dunia, juga diserang peristiwa pemutihan dalam lima tahun terakhir.

Tim di balik penelitian tersebut, yang dipimpin oleh peneliti Memorial University of Newfoundland Tyler Eddy, meninjau data dari 14.705 survei terhadap lebih dari 3.500 terumbu karang dari 87 negara. Di antara hasil lainnya, tim menemukan bahwa keanekaragaman hayati menurun, dengan ikan yang tahan suhu menjadi lebih dominan, dan penurunan penangkapan ikan per unit usaha.

"Studi kami menunjukkan kapasitas terumbu karang untuk menyediakan jasa ekosistem yang diandalkan oleh jutaan orang di seluruh dunia telah menurun setengahnya sejak tahun 1950-an," tulis mereka.

"Mencapai target emisi perubahan iklim dan mengurangi dampak lokal dapat mengurangi tekanan pada terumbu karang, memungkinkan mereka dan layanan ekosistem yang mereka berikan bisa bertahan," tambah catatan tersebut.

Para ilmuwan telah mencoba beberapa metode untuk melindungi terumbu karang dari ancaman kenaikan suhu laut. Upaya ini antara lain termasuk pencerahan awan, yaitu penebalan awan dengan air asin sehingga membuatnya memantulkan lebih banyak panas kembali ke atmosfer, dan menggunakan robot canggih untuk memproduksi karang.

Simak video 'Masalah Perubahan Iklim yang Makin Bikin Ketar-ketir':

[Gambas:Video 20detik]



(rns/afr)