Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit - Halaman 2

ADVERTISEMENT

Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 10 Sep 2021 22:33 WIB
ilustrasi riset
Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit (Foto: ilustrasi/Thinkstock)

Di pihak lain ada David Sinclair, pakar biologi di Australia, beberapa waktu lalu melakukan upaya mengubah gen tikus yang buta dan mengklaim berhasil melakukannya. "Penglihatan tikus ini kembali," katanya.

"Setidaknya ada dua lusin perusahaan di seluruh dunia mengembangkan obat yang bisa memperlambat atau di beberapa kasus, membalikkan usia organ dan mungkin suatu hari, seluruh tubuh. Jadi hal ini tidak di luar ilmu biologi," paparnya.

Belakangan ini, dana untuk teknologi anti penuaan semakin melimpah sehingga ilmuwan yang terlibat makin optimistis. "Industri ini, bahkan 5 tahun lalu, pada dasarnya tidak eksis. Sekarang ada ratusan perusahaan melakukan pekerjaan bioteknologi ini," kata Dr Gray.

Tentu banyak yang cemas dengan perkembangan tersebut. Pantaskah secara etika manusia hidup sangat panjang? Lagipula dengan usia panjang, belum tentu mereka bahagia.

"Masalah dengan sains adalah bahwa para ilmuwan rasa-rasanya mengemukakan semua cerita bagus, kita akan hidup selamanya, kita akan bahagia," kata pakar sosiologi di Australia, Profesor Bryan Turner.

"Kecuali kita punya semacam tujuan tambahan atau makna dalam hidup, berada di sini tanpa batas waktu mungkin bukan prospek yang diinginkan orang. Apa yang akan kita lakukan selama 100 atau 200 tahun lagi, nonton televisi atau semacamnya?" tanya dia.

Namun menurut Dr Horvart, orang bisa memilih apa yang mereka inginkan dan sains harus membantu untuk meraihnya. Jika manusia ingin hidup panjang dan merasa akan tetap bahagia, menurutnya hal itu bukan masalah. Ia punya misi memperpanjang umur manusia dan di sisi lain mereka tetap bisa produktif.

(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT