Riset: Orang yang Bangun Pagi, Hidupnya Lebih Bahagia

Riset: Orang yang Bangun Pagi, Hidupnya Lebih Bahagia

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 31 Agu 2021 05:45 WIB
Asian woman wake up in the morning, sitting on white bed and stretching, feeling happy and fresh
Orang yang bangun pagi hidupnya lebih bahagia (Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat)
Jakarta -

Sebagian orang suka bangun pagi, sebagian lebih suka begadang lalu bangun lebih siang. Siapa yang lebih produktif dan juga lebih bahagia?

Pada umumnya memang, mereka yang bangun pagi dianggap bisa lebih sukses dan lebih banyak menyelesaikan tugas. Banyak artikel menyebut jika orang bangun lebih pagi, produktivitas pun kian tinggi. Namun realitasnya jelas tidak selalu begitu.

Belum lagi banyak orang bukan benar-benar keduanya melainkan berada di tengah-tengah. Seperti dikutip detikINET dari Science Times, Selasa (31/8/2021) 60% orang sesungguhnya perpaduan antara suka begadang dan bangun pagi.

Faktor lain yang patut dipertimbangkan adalah sebagian orang cenderung lebih aktif dan produktif pada awal hari sedangkan sebagian baru 'berfungsi' lebih baik di malam hari.

Dalam berbagai penelitian, wanita cenderung bangun pagi sedangkan pria cenderung lebih suka begadang. Terkait dengan umur, pada saat remaja menjelang dewasa kencenderungan orang adalah begadang dan makin mengarah ke bangun pagi seiring bertambahnya usia.

Nah mengenai siapa yang lebih bahagia, beberapa riset memang menunjukkan ada hubungan antara orang yang suka bangun pagi dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.

Contohnya studi pada ratusan mahasiswa medis oleh Dokuz Eylul University di Turki mengungkap bahwa responden yang mengaku lebih suka bangun pagi cenderung skornya lebih besar saat tes kebahagiaan.

Studi lain oleh University of Leipzig menyimpulkan bahwa yang suka bangun pagi lebih merasa puas dalam kehidupannya sehingga meminimalisir masalah mental. Sedangkan yang suka begadang punya kecenderungan lebih tinggi mengalami gejala depresi.

Namun demikian tentu saja penelitian itu tidak mutlak. Kedua tipe orang itu terbentuk oleh bermacam faktor seperti kondisi keluarga, peran profesional dan rutinitas. Orang pun bisa jadi berubah dari tipe satu ke lainnya. "Barangkali ada kemungkinan mengubahnya dengan cara yang disengaja," sebut peneliti dari University of Warwick.



Simak Video "Mencicipi Donat Bahagia yang Viral di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)