Kaum Antivax Sebenarnya Bingung Cari Alasan Tak Mau Divaksin

Kaum Antivax Sebenarnya Bingung Cari Alasan Tak Mau Divaksin

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 04 Agu 2021 09:34 WIB
the patient does not agree to put the vaccine, vaccination. anti-vaccination
Kaum Antivax Sebenarnya Bingung Cari Alasan Tak Mau Divaksin. Foto: Getty Images/iStockphoto/Anna Rozhkova
Jakarta -

Ada banyak orang menentang keras vaksin COVID-19. Kaum antivax atau antivaxxer ini punya berjuta alasan tidak mau divaksin. Sebuah studi menyebutkan, ternyata mereka pun kebingungan mencari alasan yang tepat untuk menolak vaksin.

Dikutip dari StudyFinds.org, peneliti asal Polandia dari Jagiellonian University dan SWPS University of Social Sciences and Humanities percaya bahwa mereka memiliki jawaban mengapa orang tak mau divaksin.

Para penulis penelitian ini menyimpulkan, sebagian besar motivasi anti-vaxxer berasal dari sikap negatif yang sangat kabur terhadap vaksin, yang memiliki sedikit bahkan tidak ada dasar dalam banyak hal yang menyerupai sains atau fakta konkret.

Dengan menyurvei 492 orang yang menganggap diri mereka ambigu terhadap vaksin atau menentang vaksinasi, diketahui sejumlah tema alasan muncul secara berulang, antara lain termasuk ketidakpercayaan pada dokter, ketidakpercayaan pada komunitas medis yang lebih besar, dan kecenderungan untuk menyetujui argumen anti-vaksin yang menarik perhatian dan menjadi berita utama.

Yang membingungkan, sebagian besar partisipan memberi tahu peneliti bahwa keengganan pribadi mereka terhadap vaksin COVID-19 didasarkan pada pengalaman buruk mereka sendiri atau orang lain dengan vaksin.

Namun, ketika diminta untuk benar-benar menjelaskan kejadian seperti itu, hampir semuanya kembali pada penjelasan yang kabur. Misalnya, banyak yang mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengingat di mana mereka pertama kali mendengar bahwa vaksin itu berbahaya. Atau yang lainnya menirukan klaim antivax umum seperti vaksin bisa menyebabkan autisme, alergi, atau cacat lahir, tanpa mengutip penelitian atau bukti untuk mendukung pernyataan mereka.

Sebagai pelariannya, orang-orang ini mencari informasi yang harus sesuai dengan keinginan mereka, yang dapat digunakan untuk mendukung penolakan terhadap vaksin. Para penulis menyebutkan, hal ini disebut sebagai bias konfirmasi, yakni kecenderungan manusia untuk mencari dan mengingat informasi untuk mendukung keyakinan yang sudah mereka tanamkan dalam diri.

"Bias konfirmasi terdiri dari individu yang secara aktif mencari informasi yang konsisten dengan hipotesis yang sudah ada sebelumnya, dan menghindari informasi yang menunjukkan penjelasan alternatif," jelas para peneliti.

Oleh karena itu, sikap negatif terhadap vaksin yang sudah ada sebelumnya, dapat menyebabkan individu menafsirkan gejala negatif sebagai konsekuensi dari vaksin, yang semakin memperkuat sikap negatif.

Selain itu, biasanya orang juga lupa dari mana mereka pertama kali belajar atau mendengar tentang sesuatu, jika mereka mendengar informasi dari berbagai sumber. Dalam beberapa kasus, info tersebut dapat menyatu dengan kehidupan sehari-hari, membuat seseorang bingung antara sesuatu yang mereka baca online dengan pengalaman kehidupan nyata. Tim peneliti berpikir, hal ini mungkin berkontribusi pada temuan mereka juga.

Percaya sesama antivaksin ketimbang dokter

Penulis studi menambahkan, data mereka menunjukkan antivaxxer percaya vaksin hampir selalu menyebabkan efek samping yang serius, tidak bisa melindungi masyarakat dari penyakit, dan kurang pengujian secara tepat sebelum mendistribusikannya ke publik.

Yang mengkhawatirkan, sebagian besar penyangkal vaksin juga percaya bahwa para "pentolan" antivax, entah bagaimana, memiliki informasi yang lebih andal tentang semua masalah ini ketimbang dokter sungguhan.

Dalam pandangan mereka, orang-orang yang sengaja membuat website dan media sosial tentang antivax lebih peduli pada kesehatan masyarakat ketimbang dokter dan para ahli.

Sedangkan bagi mereka yang ragu terhadap vaksin, dalam studi ini, mengatakan bahwa umumnya mereka percaya bahwa vaksin efektif dan dikembangkan dengan benar.

Para peneliti menemukan bahwa kelompok ini sangat rentan dipengaruhi pernyataan terkait gerakan antivaksin yang membawa-bawa konspirasi "Big Pharma". Dengan kata lain, individu yang ragu-ragu terhadap vaksin ini masih ada kemungkinkan menjadi pro vaksinatau menjadi antivax tergantung pada informasi yang mereka temui.

Para peneliti menyimpulkan dengan mencatat ada sedikit bukti ilmiah hingga saat ini yang menunjukkan bahwa pikiran antivaxxer sebenarnya dapat diubah. Jadi, mereka merekomendasikan agar kampanye kesadaran vaksinasi memfokuskan upaya mereka untuk menjangkau orang yang ragu-ragu.



Simak Video "Epidemiolog Jelaskan soal Heboh Turunnya Efikasi Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)