Studi Ungkap Kenaikan Berat Badan Bisa Terjadi saat Puasa dan Pandemi!

Studi Ungkap Kenaikan Berat Badan Bisa Terjadi saat Puasa dan Pandemi!

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 11 Apr 2021 15:35 WIB
Young beautiful blonde sporty woman on diet holding weight machine over pink background stressed with hand on head, shocked with shame and surprise face, angry and frustrated. Fear and upset for mistake.
Studi ungkap kenaikan berat badan saat pandemi dan bulan puasa sering terjadi karena pola makan yang salah juga tak disiplin. Foto: Getty Images/iStockphoto/AaronAmat
Jakarta -

Studi mengungkap bahwa kesalahan pola makan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan dan pandemi membawa dampak kenaikan berat badan bagi sebagian orang. Hal ini dijelaskan oleh Felicia Kartawidjaja Putra M.Sc Manager of Nutrifood Research Center.

Menurutnya, ada tiga hal yang pasti berubah ketika sedang berpuasa. Tiga itu adalah frekuensi waktu makan yang berubah (dari tiga kali makan besar menjadi dua kali), jam tidur, hingga aktivitas fisik yang lebih rendah, sebagaimana diungkapkan dalam 'Virtual Media Gathering NutriTalk 2021'.

Bukan karena puasanya yang salah, akan tetapi ada segelintir orang yang tidak terlalu tepat dalam mengatur pola makan dan waktu berolahraga. Padahal, Feli mengatakan satu bulan berpuasa sebenarnya adalah kesempatan menuju jiwa dan raga yang lebih baik, bukan hanya dari segi ibadah. Dari puasa ini juga orang bisa memperbaiki pola hidup.

"Studi setelah puasa sejumlah orang bisa mengurangi berat badan berlebih, dan bahkan sebagian orang bisa memperbaiki profil kolesterolnya. Tapi sayangnya kalau dengar berita atau laporan, ada beberapa hal yang kurang sesuai. Banyak teman-teman muslim yang buka puasa itu overeating. Biasanya populer makan kurma, nah ternyata makan kurmanya atau ditemani roti dan itu lebih banyak dari biasanya," kata Felicia.

Nah selama pandemi, ada juga studi yang menyebutkan bahwa segelintir orang mengalami kenaikan berat badan berkisar 2,5 - 5 kg. Ini dikarenakan banyak alasan yang melatarbelakangi.

"Kalau soal pandemi, ternyata ada survei ketika mulai ramai encourage untuk stay at home, dari 20% yang disurvei, mereka mengalami kenaikan berat badan banyak 2,5 - 5 kg. Loh kok bisa kenaikannya segitu? Selama pandemi, orang di rumah, akses ke makanan lebih gampang, kerja dekat dapur," jelas Feli.

"Bagaimanapun, pandemi sedikit banyak bikin orang stres. Nah ada yang lari ke makanan, karena pandemi nggak boleh jalan-jalan, ngumpul, akhirnya scroll GoFood apa GrabFood," sambungnya.

Alasan lain adalah aktivitas fisik juga berkurang. Jika biasanya orang terbiasa berjalan kaki selama ke kantor, kini pergerakan tentu saja berkurang karena bekerja masih melalui rumah. Ini juga ditambah alasan kurangnya tidur karena insomnia sendiri semakin menjadi perhatian di tengah pandemi.

"Makanya, belakangan ini banyak diet bermunculan, orang-orang mulai sadar kenaikan berat badan. Lebih dari 2,5 kg tentu mulai berasa," ujar Feli.

Karena itu, yuk detikers, kita menyambut bulan Ramadan dengan semangat tetapi juga harus semangat juga dalam menerapkan pola makan sehat selama bulan puasa. Dengan begitu, ibadahnya dapat, kesehatannya juga ikut diperbaiki!



Simak Video "WHO Minta Kerja Sama China untuk Studi Tahap Kedua"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/vmp)