Untuk Pertama Kalinya, Terdeteksi Badai di Luar Angkasa

Untuk Pertama Kalinya, Terdeteksi Badai di Luar Angkasa

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 08 Apr 2021 06:48 WIB
badai luar angkasa
Untuk Pertama Kalinya, Terdeteksi Badai di Luar Angkasa. Foto: Science.howstuffworks
Jakarta -

Amukan badai di luar angkasa mungkin terdengar seperti cerita film fiksi ilmiah. Namun nyatanya, ini adalah fenomena yang sungguh terjadi. Ilmuwan untuk pertama kalinya mendeteksi dan mendokumentasikan badai luar angkasa.

Setelah berhipotesis bahwa meteorologi atmosfer setinggi itu mungkin terjadi, para ilmuwan sekarang punya bukti bahwa badai terjadi di berbagai tingkat atmosfer Bumi.

Seperti dilaporkan dalam jurnal ilmiah Nature Communications pada Februari 2021, para ilmuwan mengamati dan mendokumentasikan fenomena pertama badai luar angkasa. Tapi sebenarnya fenomena apa itu?

Badai antariksa kemungkinan pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah planet kita dan kemungkinan besar akan terjadi lagi. Jadi, jika kita mengetahui penyebabnya dan seberapa miripnya dengan badai atmosfer rendah seperti di Bumi, hal itu akan sangat membantu.

Badai luar angkasa terdokumentasi pertama di dunia

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh tim ilmuwan internasional, badai antariksa pertama yang didokumentasikan terjadi pada 20 Agustus 2014. Tinggi di atmosfer atas, spiral plasma yang membentang lebih dari 1.000 kilometer, berputar di atas magnet Kutub Utara selama hampir delapan jam. Meski tidak terlihat oleh mata manusia, satelit cuaca terdampak badai ini, dan mengabarkan para peneliti mengenai fenomena tersebut.

"Seperti banyak fenomena cuaca antariksa, partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan medan magnet Bumi untuk memicu badai antariksa," jelas ahli meteorologi Accuweather Brian Lada, dikutip dari Science.howstuffworks.

"Fenomena ini kemungkinan disebut 'badai' karena cara putarannya, mirip dengan siklon tropis. Sejak diamati di Kutub Utara, saya sedikit terkejut bahwa mereka tidak menyebutnya sebagai 'pusaran luar angkasa' untuk mencocokkan dengan istilah cuaca 'pusaran kutub'," sambungnya.

Badai luar angkasa vs badai Bumi

Badai di luar angkasa dan Bumi punya beberapa kesamaan, tetapi ada juga sejumlah perbedaan. Selain bentuknya yang sama-sama memiliki mata di bagian pusatnya, badai luar angkasa dan Bumi juga memiliki curah hujan.

Di Bumi, badai memiliki curah hujan air (hujan), sedangkan badai antariksa memiliki curah hujan listrik yang dapat menciptakan aurora menakjubkan. Ada satu perbedaan besar antara kedua jenis badai tersebut, yakni keduanya terjadi di bagian atmosfer Bumi yang sangat berbeda.

"Badai normal terjadi di troposfer, bagian dari atmosfer Bumi yang paling dekat dengan tanah yang membentang ke atas sekitar 8 hingga 14 kilometer. Sedangkan badai luar angkasa diamati terjadi di ionosfer, yang membentang hingga 966 kilometer di atas permukaan Bumi," jelasnya.

Badai luar angkasa juga berukuran sangat besar jika dibandingkan dengan badai di Bumi. Lebarnya lebih dari 965 kilometer, kira-kira dua kali diameter rata-rata badai di troposfer.

Apakah badai luar angkasa membahayakan Bumi?

Menurut Lada, badai antariksa sebagian besar tidak berbahaya, meski mungkin kita bisa mengalami efeknya di Bumi.

"Jika cukup kuat, badai antariksa berpotensi menyebabkan gangguan di darat. Jika ada cukup banyak partikel bermuatan yang turun dari luar angkasa," ujarnya.

"Selain menciptakan aurora, hal itu dapat mengganggu sinyal GPS, gelombang radio, dan dalam kasus ekstrem, jaringan listrik. Namun, jika peristiwa ini hanya terjadi di kutub, maka jumlah pemadaman listrik akan dibatasi berdasarkan populasi yang jarang di wilayah kutub," tambahnya.

Berkat temuan badai luar angkasa pertama yang berhasil didokumentasikan ini, para ilmuwan niscaya akan mencoba menentukan di mana, dan seberapa sering badai antariksa terjadi.



Simak Video "Misi Astronot AS dan Jepang di Luar Angkasa"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)